Pakistan Mengaku

Khawatir dengan Perkembangan di Rakhine

FOTO | REUTERSPakistan mengungkapkan keprihatinannya yang mendalam atas meningkatnya jumlah kematian dan pemindahan paksa Muslim Rohingya
A A A

ISLAMABAD - Pakistan mengungkapkan keprihatinannya yang mendalam atas meningkatnya jumlah kematian dan pemindahan paksa Muslim Rohingya. Islamabad menyebut ini sebagai sumber keprihatinan dan kesedihan serius di tengah suasana Idul Adha.

"Pakistan mendesak pihak berwenang di Myanmar untuk menyelidiki laporan pembantaian, meminta pertanggungjawaban tersebut, dan mengambil tindakan yang diperlukan untuk melindungi hak-hak Muslim Rohingya," kata Kementerian Luar Negeri Pakistan dalam sebuah pernyataan, seperti dilansir Anadolu Agency pada Senin (4/9).

"Sejalan dengan posisi konsisten melindungi hak-hak minoritas Muslim di seluruh dunia, pernyataan tersebut mengatakan, Pakistan akan bekerja sama dengan masyarakat internasional, khususnya Organisasi Kerjasama Islam (OKI), untuk mengungkapkan solidaritas dengan Muslim Rohingya dan kepada bekerja untuk menjaga hak-hak mereka," sambungnya.

Sebelumnya, aktivis HAM Rohingya mengungkap bahwa sekitar 1.000 warga Rohingya, terutama warga sipil, telah dibantai tentara Myanmar. Sementara itu, pemimpin de facto Myanmar Aung San Suu Kyi semakin tersudut, di mana para pemimpin sejumlah negara menekannya untuk menghentikan kekerasan di negara bagian Rakhine.

Pengungkapan data baru oleh aktivis untuk menyangkal klaim militer yang hanya mengakui bahwa 399 orang tewas dalam konflik terbaru di Rakhine.

”Ada 1.000 orang Rohingya yang dikonfirmasi yang telah dibunuh oleh tentara Burma (Myanmar) dan jumlah korban tewas tersebut mungkin jauh lebih tinggi. Militer membakar banyak desa. Mereka melempar anak-anak ke dalam api,” kata Tun Khin, Presiden Organisasi Rohingya Burma.

Laporan korban sipil didukung oleh petugas bantuan di Bangladesh yang mengatakan kepada AP bahwa lebih dari 50 pengungsi telah tiba dengan luka tembak. Banyak juga yang menderita penyakit pernafasan dan kekurangan gizi.

Komentar

Loading...