Jalan akses menuju Samar Kilang Kecamatan Syiah Utama, Kubupaten Bener Meriah lumpuh total akibat longsor dan pohon tumbang.“Mungkin kejadianya tadi malam, soalnya kemaren sore anggota saya pulang jalannya masih baik-baik saja," ungkapnya. Munurut Mustakim, longsor tersebut menimpa separuh badan jalan dengan panjang mencapai 17 meter, namun pohon-pohon dari atasnya tumbang dan menutup badan jalan sehingga jalan tersebut tidak dapat dilalui untuk saat ini.

Keuchik Kuta Trieng Dilaporkan ke Polres Aceh Selatan

ISTIMEWASalah seorang warga Desa Kuta Trieng, Kecamatan Labuhan Haji, Kabupaten Aceh Selatan melaporkan okum Keuchik Ke Porles setempat
A A A

ACEH SELATAN - Warga Desa Kuta Trieng, Kecamatan Labuhan Haji, Kabupaten Aceh Selatan melaporkan oknum Keuchik bernama Yuhanda Ke Porles setempat terkait dugaan pemalsuan tanda tangan masyarakat penerima bantuan sembako Covid-19.

Pelaporan tersebut dilakukan oleh warga berinisial KRS yang di dampingi Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Advokasi dan Keadilan Aceh Distrik Aceh Barat Daya (YLBH AKA Abdya) Selasa, 2 Juni 2020 dan saat ini laporan telah diterima melalui SPKT Polres Aceh Selatan.

KRS (41) saat dikonfirmasi acehimage.com  2 Juni 2020 malam menceritakan kejadian itu bermula dari demo yang dilakukan masyarakat di kantor Keuchik Desa Kuta trieng pada tanggal 28 Mei 2020 lalu yang meminta keadilan dan transparansi dana bantuan sembako Covid-19 kepada aparatur desa.

”Iya kejadian ini awalnya dari demo yang dilakukan masyarakat kemarin untuk meminta keadilan dan tranparansi dana Covid-19,” ujar laki-laki tersebut.

Ia melanjutkan, usai dari demo tersebut akhirnya masyarakat dan aparat desa duduk untuk bernegosiasi karena aparat desa meminta berdamai dan setelah itu mereka memperlihatkan surat peralihan kuasa yang bahwa kami sudah setuju untuk di alihkan bantuan sembako tersebut.

”Setelah demo kami mendapatkan surat peralihan sembako dana Covid tersebut.
Dan dalam surat itu terdapat nama saya sebagai salah satu penerima bantuan sembako namun sembako tersebut dialihkan untuk orang lain,” ungkapnya.

Dikatakannya, aparatur desa tidak pernah memberitahu korban jika bantuan sembako itu telah dialihkan ke orang lain, dan anehnya didalam surat peralihan itu sudah ada tanda tangan korban. sementara KRS mengaku tidak pernah menandatangani surat tersebut.

”Saya mengetahui kalau surat peralihan bantuan sembako tersebut ada tanda tangan saya ya setelah kami meminta data-data tersebut kepada aparatur desa dan disitulah kami melihat tanda tangan kami sudah ada di kertas tersebut sementara saya tidak pernah merasa menandatangani surat tersebut,” tuturnya.

KRS menambahkan, dalam kasus ini juga bukan hanya KRS tetapi juga ada beberapa orang lainnya. Namun untuk kasus pelaporan oknum keuchik yang di duga memalsukan tanda tangan terkait penerima sembako Covid-19 itu atas nama KRS secara pribadi.

Sementara itu dari pihak YLBH AKA Abdya yang mendampingi korban yakni Rahmat, SSy CPCLE, Pujiaman SH, Rahmad Kurniadi, SH, berdasarkan surat kuasa khusus pada tanggal 31 Mei 2020.

Rahmat, Direktur Eksekutif YLBH AKA Distrik Abdya mengatakan, para pelapor telah melaporkan kejadian ini ke Polres Aceh Selatan bersama beberapa orang saksi sekitar pukul 11.00 WIB dan laporannya selesai menjelang azan magrib dengan bukti tanda terima pelaporan dengan Nomor: STPL/21/6/2020/SPKT.

”Bukan hanya dia seorang tapi ada beberapa orang masyarakat yang merasa dirugikan yang saat ini belum melapor. Dan dia yakin dalam beberapa hari kedepan, mereka juga akan membuat pelaporan pengaduan Dugaan Pemalsuan tanda tangan,” ujarnya

Rahmat juga menjelaskan pihaknya akan terus mendampingi para pelapor yang merasa dirugikan dari dugaan tundak pidana pemalsuan tanda tangan.

”Apabila ada masyarakat yang merasa dirugikan akibat dugaan pemalsuan tanda tangan,terkusus bagi warga Gampong Kuta Trieng agar segera untuk melaporkan dan YLBH AKA Distrik Aceh Barat Daya siap mendampingi para pencari keadilan,” pungkasnya.

Sementara itu Keuchik Desa Kuta Trieng Yuhanda saat di konfirmasi Rabu, 3 Juni 2020 pagi, menjelaskan memang benar perangkat desa setempat melakukan pengalihan bantuan sembako Covid-19. Namun, pengalihan tersebut dilakukan karena sebagian nama yang masuk dalam list bantuan semabako itu sudah mendapatkan bantuan jenis lain.

”Kami ini hanya menjalankan tugas dari Pemda, kemarin bantuan itu dikirim dalam bentuk sembako yang sudah di paket oleh Pemda dengan syarat penerima harus yang membutuhkan dan tidak boleh mendapatkan bantuan lain walaupun tertera namanya,” kata Yuhanda

Dikatakannya, karena sebab itulah aparatur desa setempat memutuskan untuk membagikan tersebut kepada masyarakat yang belum pernah mendapatkan bantuan dan yang membutuhkan

”Kalau gitu juga salah, kami menyerah. Kecuali sembako tersebut kami bawa pulang ke rumah kami,” tegasnya.

Sementara untuk penanggung jawab dugaan pemalsuan tanda tangan itu akan menjadi tanggung jawab aparatur desa dengan Pemda setempat dan yang menandatangani tersebut merupakan masyarakat yang menerima bantuan

”Rela tidak rela yang memberi itu kami tetap harus mengambil keputusan yang di perintahkan oleh Pemda, karena dia bukan perangkat desa dan tidak mungkin kami memberi tahu satu persatu atau musyawarah umum terkait masalah ini, karena Pemda juga membagi semabako secara mendadak,” pungkasnya.

Rubrik:ACEH

Komentar

Loading...