Ketua KPK Bicara Soal Dampak Korupsi yang Serang Seluruh Lini Bangsa

dok Ketua KPK | Agus Rahardjo
A A A

JAKARTA - Ketua KPK Agus Rahardjo mengatakan praktik korupsi bisa berdampak kerugian di segala sendi kehidupan. Mulai dari kemiskinan hingga kondisi perekonomian negara yang bisa hancur.

"Saya akan cerita akibat dari korupsi, angka kemiskinan hingga September 2015 mencapai 28,51 juta atau sebelas persen dari total penduduk Indonesia. Ini tidak terlepas dari praktik korupsi," ucap Agus saat memberikan pembekalan pencegahan tindak pidana korupsi di kantor Kementerian Pertahanan (Kemenhan), Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat (22/11).

Acara tersebut langsung dihadiri Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu. Selain itu, pejabat eselon I dan II di lingkungan Kemenhan juga terlihat hadir.

Agus lalu menyampaikan kondisi Indonesia dari sisi ekspor-impor. Menurut Agus, Indonesia membuat kesalahan dengan berubah dari eksportir menjadi importir. Agus mengatakan seharusnya Indonesia belajar dari Brazil tentang hal itu.

"Kita bukan memiliki jumlah batu bara terbesar di dunia dan puluhan PLTU kita menggunakannya untuk dapat hidup. Kalau enggak menyiapkan maka akan seperti dulu di kejadian yang lain," kata Agus.

Selain itu, Agus juga mengatakan praktik korupsi menyebabkan Indonesia kehilangan hutan beribu-ribu hektare tiap tahunnya. Bahkan, Agus menyebut, dari data yang dihimpunnya, setiap sektor berhubungan dengan korupsi.

"Data yang lain setiap orang berhubungan dengan sektor apa pun banyak rakyat berhadapan dengan korupsi. Pendidikan bayar tinggi adalah sesuatu yang enggak perlu. Yang sangat tinggi angka KKN adalah di pengadilan dan ketemu polisi," ucap Agus.

Kemudian, Agus juga mengatakan ada 115 orang dari kalangan DPR dan DPRD yang ditangkap KPK dari periode 2007 sampai 2015. Agus menyebut perkara yang paling banyak adalah pengadaan barang dan jasa.

"Di Kemenhan banyak dilakukan pengadaan barang, maka perlu integritas tinggi," ucap Agus.

Bagi Agus, korupsi yang masih tinggi bukan berarti tidak mempunyai harapan. Agus menuturkan apabila suatu lembaga sudah menegakkan integritas, maka performanya pun akan tinggi pula.

"Sebelum ada KPK indeks persepsi korupsi Indonesia sebesar 1,9 persen. Sekarang pelan-pelan naik. Waktu 1,9, Thailand di angka 3,8, dan Malaysia 5,0 persen. Dari 19 tahun lalu masih segitu aja Thailand. Tapi kita naik dan mendekati Thailand, yang sulit kita kejar Singapura. Tahun 2015 nilai Indonesia di angka 3,6 persen," ucap Agus.

Menurut Agus, pemberantasan korupsi di Indonesia tetap berjuang dengan gambaran data yang memiliki harapan besar. Apalagi pemerintah dapat bertransformasi menjadi lebih baik.

"Bagaimana mencegah, memperbaiki diri yaitu dengan melaporkan LHKPN. Misal ada gratifikasi harus dilaporkan. Kami mohon dibantu. Pengembalian aset akan membikin jera pelaku korupsi setelah hukuman badan. Ini memerlukan kerja keras karena bekerja sama dengan PPATK," tegas Agus.

Rubrik:Aceh

Komentar

Loading...