Jelang Rencana Repatriasi Rohingya,

Kesiapan Myanmar Diragukan

FOTO | AFPSejumlah warga Rohingya berjalan bersama saat mengungsi di perbatasan Myanmar-Bangladesh di Palongkhali, Ukhia, Bangladesh 19 Oktober 2017.
A A A
Yang terburuk adalah memindahkan orang-orang ini dari kamp-kamp di Bangladesh ke kamp-kamp di Myanmar,

DHAKA - Kekhawatiran semakin meningkat di antara badan-badan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) dan kelompok-kelompok kemanusiaan mengenai kesepakatan antara pemerintah Bangladesh dan Myanmar untuk memulangkan ratusan ribu pengungsi Rohingya dalam waktu dua tahun.

Pada Rabu (17/1), media pemerintah Bangladesh melaporkan gelombang pertama Rohingya akan dikirim kembali ke Myanmar pada minggu depan. Kelompok hak asasi manusia mengatakan masih belum jelas apakah pengungsi akan dipaksa untuk kembali melawan keinginan mereka.

Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, mengatakan kesepakatan repatriasi yang diselesaikan di ibu kota Myanmar, Naypyidaw, pada Selasa (16/1) juga perlu mengklarifikasi apakah Rohingya akan diizinkan untuk kembali ke rumah mereka atau tinggal di kamp-kamp yang dibangun secara khusus.

"Yang terburuk adalah memindahkan orang-orang ini dari kamp-kamp di Bangladesh ke kamp-kamp di Myanmar," kata Guterres saat konferensi pers di markas besar PBB, New York.

Guterres menambahkan kesepakatan tersebut tidak memasukkan peran badan pengungsi PBB (UNHCR), sehingga sulit untuk menjamin bahwa operasi tersebut sesuai dengan standar internasional.

Amnesty International menyebut rencana repatriasi tersebut terlalu dini dan memperingatkan kemungkinan akan menjadi peristiwa mengerikan bagi para pengungsi yang selamat dari tindak kekerasan traumatis dan dalam banyak kasus mengalami penganiayaan seumur hidup. Di sisi lain, isu mendasar seperti kewarganegaraan dan keamanan tetap tidak terselesaikan.

Paul Ronalds, kepala eksekutif Save the Children Australia, mengatakan kesepakatan Myanmar dan Bangladesh "masih sangat samar" dan tidak menangani kondisi yang akan dihadapi Rohingya saat mereka kembali.

"Jika Rohingya kembali ke Myanmar, penting bagi mereka untuk merasa yakin bahwa perlindungan mereka akan terjamin dan mereka tidak akan tunduk pada penindasan dan kekerasan yang mereka jalani selama berpuluh-puluh tahun," katanya.

Jika Rohingya kembali ke Myanmar, penting bagi mereka untuk merasa yakin bahwa perlindungan mereka akan terjamin dan mereka tidak akan tunduk pada penindasan dan kekerasan yang mereka jalani selama berpuluh-puluh tahun,
Kode:47
Sumber:beritasatu.com
Rubrik:Dunia

Komentar

Loading...