Alfred Riedl dan Claudio Ranieri,

Kekuatan Harapan di Piala AFF

Foto | bola.comAlfred Riedl dan Claudio Ranieri, Piala AFF 2016 Akhir Penantian.
A A A

JAKARTA - Dalam beberapa hal pelatih Timnas Indonesia, Alfred Riedl, punya beberapa kemiripan dengan pelatih gaek asal Italia, Claudio Ranieri.

Keduanya pelatih senior, yang matang jam terbang di level persaingan berbeda. Usia Alfred lebih tua dua tahun dibanding Ranieri.

Ranieri lahir di Kota Roma pada 20 Oktober 1951 (65 tahun), sementara itu Alfred di Wina, 2 November 1949 (67 tahun).

Sebelum jadi pelatih, keduanya sempat jadi pemain. Alfred terhitung lebih sukses kariernya. Berposisi sebagai striker ia sempat membela Timnas Austria pada periode 1975-1978.

Ia tercatat menjadi top scorer Liga Belgia musim 1973 dan 1975 serta Austria Budesliga 1972.

Bandingkan dengan Ranieri yang menghabiskan kariernya di klub semenjana. Mengawali karier di AS Roma, Ranieri yang berposisi sebagai bek kalah bersaing. Ia sempat bermain di klub Catanzaro (1974–1982), Catania (1982–1984), dan Palermo (1984–1986).

Untuk urusan jam terbang melatih, Ranieri lebih senior. Arsitek yang doyan mengumbar senyum mulai mulai menangani sebuah tim pada 1986. Ia menakhodai klub amatir Negeri Pizza, Vigor Lamezia.

Sementara itu, Alfred Riedl baru mulai menekuni profesi pelatih pada tahun 1990. Namun, di awal kariernya ia langsung menukangi timnas negaranya Austria.

Sepanjang kariernya pria yang doyan bicara blak-blakan ini cukup punya jam terbang tinggi menukangi timnas berbagai negara. Selain Austria (1990-1991), Alfred sempat singgah di Liechtenstein (1997–1998), Vietnam (1998-2000, 2003-2004, 2005-2007), Palestina (2004-2005), Laos (2009-2010), dan tentunya Indonesia (2010, 2014, dan 2016).

Di sisi lain, Ranieri yang lebih banyak memegang klub, baru sekali mencicipi kesempatan melatih timnas. Ia menangani Yunani (2014) sebelum akhirnya singgah ke Leicester City setahun berselang hingga kini.

Ranieri dicap sebagai pelatih bertangan panas jika bicara prestasi menukangi klub di level kompetisi kasta elite. Sepanjang kariernya ia lebih banyak sukses mengantar tim asuhannya di ajang turnamen.

Di Fiorentina ia mempersembahkan piala Coppa Italia 1995-1996 dan Supercoppa Italia 1996. Selanjurnya di Valencia ia sukses meraih gelar UEFA Intertoto Cup edisi 1998, Copa del Rey 1998-1999, UEFA Super Cup 2004. Tak satupun piala juara kompetisi kasta tertinggi di sebuah negara ia sukses dapat.

Ketika akhirnya Leicester City akhirnya juara Premier League musim 2015-2016, Ranieri seperti merasa tidak percaya bisa juga mengakhiri dahaga panjang gelar liga.

Kisah Cinderella Leceister City
"Saat datang ke klub ini, saya sama sekali tidak berfikiran bisa meraih gelar apapun. Saya sudah terlalu tua untuk memikirkan gelar juara. Ya mungkin, saya memang ditakdirkan tidak pernah juara. Namun, ternyata sebuah keajaiban terjadi," ungkap Claudio Ranieri sebuah wawancara di saluran televisi resmi klub.

"Leicester adalah Cinderella yang akan menang di liga terkaya di dunia, jadi semua orang mencintainya. Saya tak pernah percaya dongeng, tetapi saya tak pernah kehilangan harapan."

Jangankan bicara soal gelar, untuk masuk jajaran big four Liga Inggris, Leicester sama sekali tak dihitung. Persaingan papan atas yang melibatkan Chelsea, Manchester United, Arsenal, Manchester City, atau bahkan Liverpool sudah amat rapat. Hampir bisa dibilang tak ada ruang bagi klub dengan modal uang biasa-biasa saja bisa menyelip di antara klub-klub elite tersebut.

Demikian pula Alfred Riedl. Semenjak menekuni dunia kepelatihan pada 1990, ia belum pernah merasakan madu gelar juara. Sang mentor memulai petualangan di kawasan Asia Tenggara pada 1998, saat ia menerima pinangan Vietnam.

Di tahun perdananya ia langsung mengantar Tim Negeri Paman Ho ke final Piala AFF. Sayang di partai final Vietnam digasak Singapura 0-1. Setahun berselang, ia nyaris mempersembahkan gelar buat negara tersebut di ajang SEA Games 1999.

Namun, apesnya mereka kandas di laga final melawan Thailand 0-2. Di Vietnam Alfred jadi spesialis nyaris juara. Gagal dua kali beruntun di SEA Games 2003 dan 2005. Walau begitu ia amat dicinta publik sepak bola negara penganut paham sosialis tersebut.

Alfred dinilai mengangkat kualitas sepak bola Vietnam, yang sebelumnya spesialis penggembira di persaingan elite Asia Tenggara. Ia dielu-elukan saat mengantar Vietnam menembus perempat final Piala Asia 2007.

Negara itu mencatat prestasi membanggakan, satu-satunya negara Asia Tenggara yang jadi tuan rumah yang lolos dari fase penyisihan. Sempat berkelana di Laos pada SEA Games 2009.

Di negara ini, Alfred jadi tukang sulap dengan mengantar Laos yang ke semifinal. Pencapaian sensasional yang dilakukannya saat itu adalah mengalahkan Timnas Indonesia U-23 0-2 di babak penyisihan.

Pada akhir 2010 ia mengiyakan tawaran PSSI untuk menukangi Tim Merah-Putih di Piala AFF 2010. "Indonesia negara kuat di persaingan Asia Tenggara. Banyak pemain berbakat di sini, namun entah mengapa seperti dijauhi keberuntungan. Buat saya ini sebuah tantangan," ungkap Alfred Riedl.

Sang mentor langsung unjuk gigi, melesatkan Timnas Indonesia ke final Piala AFF 2010. Sayang begitu bersua Malaysia di duel final, keberuntungan seperti kembali menjauh. Tim asuhannya kalah dengan agregat 4-2.

Ketika comeback di Tim Merah-Putih pada Piala AFF 2014 Alfred harus kembali menerima kenyataan pahit. Indonesia tersingkir di fase penyisihan.

Sempat mengiyakan tawaran dari klub PSM Makassar di awal tahun 2015, Alfred akhirnya memilih mudik ke negaranya dengan alasan kesehatan. Sang pelatih pernah operasi ginjal, yang membuatnya tidak bisa lagi leluasa menjalani aktivitas melatih.

Utang dan Penasaran
Keputusan mengejutkan dibuat Alfred Riedl di pertengahan tahun ini, saat ia menerima pinangan PSSI untuk menjadi pelatih Timnas Indonesia buat Piala AFF 2016.

Padahal, Alfred tahu benar peluang Tim Garuda bisa jadi yang terbaik di kawasan Asia Tenggara amat tipis. Selama setahun lebih Indonesia terasing dari persaingan internasional karena sanksi FIFA, imbas perseteruan panas antara PSSI dengan Menpora, Imam Nahrawi.

Alfred tak punya waktu banyak untuk mempersiapkan tim. "Saya tahu keputusan saya terkesan gila. Tapi entah kenapa saya memilih mengiyakan. Buat saya pribadi Indonesia negara yang spesial. Saya masih punya utang yang belum terselesaikan," ujar Alfred, saat melakukan perbincangan santai dengan Bola.com di sebuah hotel di kawasan Bogor, Jawa Barat.

Utang yang dimaksud legenda hidup klub Belgia, Standard Liege, adalah gelar juara. Alfred merasa kalau Indonesia sejatinya berpeluang besar jadi yang terbaik di Asia Tenggara.

"Banyak pemain berbakat di negara ini, hanya sayangnya sepak bola Indonesia sering dilanda konflik, sehingga timnas tidak pernah bisa benar-benar fokus. Saya kembali untuk menuntaskan rasa penasaran," katanya dengan mimik muka serius.

Rasa penasaran lebih pada tentang dirinya sebagai pelatih. Ia ingin menutup kariernya dengan kebanggaan mengangkat piala. "Saya sudah terlalu tua untuk melatih. Saya mungkin tidak lagi lama. Timnas Indonesia mungkin tim terakhir yang saya latih."

Alfred Riedl mengakui kesuksesan Claudio Ranieri menginspirasi dirinya untuk mempercayai sebuah harapan.

Sekalipun ia kerap berujar ke awak media, tidak yakin Timnas Indonesia biasa juara, sejatinya dalam lubuk hati paling dalam ia ingin anak-asuhnya jadi jawara Piala AFF 2016. Komentar yang dilontarkannya di ruang publik lebih untuk memindahkan beban dari para pemainnya. Alfred Riedl ingin para pemainnya stres karena memikul ekspetasi publik sepak bola Indonesia yang terlalu tinggi.

Jeli Melihat Potensi Pemain
Bicara soal Claudio Ranieri, keberhasilannya membawa Leicester City jadi juara Liga Inggris 2015-2016, diraih bukan dengan sistem bermain sepak bola indah ala Barcelona atau Spanyol. Sesuatu yang mustahil karena The Foxes tidak memiliki skuat bertabur bintang.

Kejelian melihat potensi pemainnya jadi kunci sukses. Sepanjang musim Leicester banyak memenangi duel-duel krusial melawan tim elite dengan gaya bermain counter attack.

Leicester City membiarkan lawannya menguasai permainan, sembari menunggu waktu yang tepat untuk menghukum mereka dengan gol-gol serangan balik. Ditangan Ranieri sosok Jamie Vardy, Shinji Okazaki, Danny Drinkwater, Riyad Mahrez, sekumpulan pemain yang dicap kelas semenjana, menjelma menjadi momok menakutkan bagi tim-tim lawan.

"Saya sadar tidak mungkin memaksa pemain saya bermain terbuka. Kami bermain bertahan dan mengandalkan serangan balik. Saya punya pemain yang punya kelebihan dari sisi kecepatan. Memaksimalkan potensi terbaik mereka merupakan pilihan yang realistis," ujar Ranieri yang sempat singgah di Chelsea dan AS Monaco tersebut.

Kondisi ini mirip-mirip dengan Timnas Indonesia di Piala AFF 2016. Sepanjang turnamen Tim Merah-Putih bisa dibilang tak pernah mendominasi permainan. Alfred Riedl memilih taktik direct football dengan mengeksploitasi pemain-pemain cepat macam Boaz Solossa, Andik Vermansah, Rizky Rizaldi Pora.

Pola permainan ini tidak indah untuk ditonton. Apalagi publik sepak bola Tanah Air masih tengiang-ngiang peragaan sepak bola indah ala Timnas Indonesia U-19 besutan Indra Sjafri yang jadi jawara Piala AFF U-19 2013 silam. Namun faktanya strategi Alfred bisa meloloskan Timnas Indonesia ke final turnamen.

Selangkah lagi Tim Merah-Putih bisa mewujudkan mimpi jadi yang terbaik di Piala AFF 2016. Dua laga final melawan Thailand pada 14 dan 17 Desember 2016 jadi penentu. Kubu lawan berstatus sebagai juara bertahan. Di babak penyisihan Grup A, Boaz Solossa dkk. sempat kalah 2-4.

Tak mudah bagi Alfred Riedl mengulang cerita Cinderella Claudio Ranieri di Leicester City. Walau memang sepak bola tidak selalu bicara taktik di atas kertas, selalu ada ruang di luar area teknik yang bisa merubah peluang sebuah tim. Tak hanya Leicester, banyak tim kuda hitam lain bisa jadi yang terbaik, walau pengamat tidak mengunggulkan mereka.

Akankah Alfred Riedl akhirnya mengangkat trofi setelah puasa panjang selama 26 tahun?

Sumber:bola.com
Rubrik:Sport

Komentar

Loading...