Aliansi Mahasiswa Aceh (AMA) kembali medesak Plt Gubernur untuk mempublikasikan penggunaan anggaran hasil refocusing maupun BTT dalam APBA 2020. AMA mengaku tidak berhenti menyuarakan hal tersebut sebelum tuntuntan mareka terpenuhi. Aliansi Mahasiswa Aceh memandang ada hal urgensi saat ini yang harus diprioritaskan oleh Pemerintah Aceh selama masa Pandemi COVID -19, seperti sektor kesehatan, pendidikan maupun sektor ekonomi.

Karpet Merah Buat TKA China Ditengah Tenaga Kerja Lokal Menganggur

ISTIMEWAAkademisi sekaligus pengamat sosial Universitas Abulyatama, Usman Lamreung
A A A

BANDA ACEH -Akademisi sekaligus pengamat sosial Universitas Abulyatama, Usman Lamreung turut menyoroti kedatangan 41 Tenaga Kerja Asing (TKA) asal China ke Nagan Raya, Provinsi Aceh, Jumat pekan lalu.

Ia mengaku sedih sekaligus kecewa dengan kabar tersebut. Sebab TKA China didatangkan pada saat tenaga kerja lokal lagi banyak yang nganggur dan ditengah pandemi corona pula.

"Sedih dan prihatin TKA China diarkan bebas datang saat pemuda yang menganggur dan covid-19. Di tengah covid-19 sedang gila-gilaan menyerang kita beri karpet merah bagi TKA China, yang justeru warga tempat penyakit mematikan itu berasal," ujarnya.

Menurutnya, salah satu bentuk kerjasama yang sedang berjalan antara pemerintah pusat dengan China di Aceh adalah Investasi proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Nagan Raya.

Kemudian PLTU Nagan Raya ini mempekerjakan Tenaga Kerja Asing (TKA) Cina.

Nah, kadatangan TKA tersebut bisa jadi bagian dari kesepakatan kerjasama kedua belah pihak, sehingga menuai kritik dan penolakan berbagai daerah termasuk masyarakat Aceh.

"Ini juga salah satu penyebab penolakan Tenaga Kerja Asing (TKA) oleh masyarakat lokal, karena dianggap TKA sudah merebut kesempatan dan peluang tenaga kerja lokal," ujar Usman Lamreung, Senin (14/9/2020).

Hal itu bisa terjadi katanya, karena kebijakan pemerintah pusat yang mempersempit peluang kerja pada masyarakat seputar perusahaan dan daerah.

TKA Cina mengambil peluang tenaga kerja lokal

Artinya disatu sisi pemerintah harus menjalankan kesepakatan dengan Cina, disisi lain berhadapan dengan rakyatnya karena dianggap tidak peduli pada warga negara dalam memberikan kesempatan lapangan kerja.

"Begitulah yang terjadi di Nagan Raya, beberapa kali terjadi penolakan masyarakat setempat atas kedatangan TKA Cina yang dianggap sudah mengambil peluang kerja masyarakat lokal," katanya.

Hal ini yang seharusnya menjadi perhatian pemerintah Aceh dan harus mampu memberikan penjelasan terkait dengan kedatangan TKA dan peluang kerja masyarakat lokal.

Artinya pemerintah Aceh selain memberikan rasa aman pada TKA, tapi juga harus memberikan kesempatan pada masyarakat sesuai kebutuhan SDM diberikan kesempatan berkerja di perusahaan PLTU Nagan Raya.

"Jangan sampai ‘Buya Krueng Teudong-dong, Buya Tameung Meureuseki” demikian kata Usman, putra Aceh Besar ini.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, sekitar 41 TKA asal China tiba di Nagan Raya, Provinsi Aceh. Mereka akan bekerja di proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU).

Menurut kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Nagan Raya, Rahmatullah mengatakan, para TKA China tersebut mendarat di Bandara Cut Nyak Dhien Nagan Raya.

"Mereka (TKA China) telah mengantongi izin kerja dari Kementerian Ketenagakerjaan RI," katanya saat konfirmasi, Jumat (11/9/2020).

Nah, begitu tiba katanya, mereka dilakukan pemeriksaan suhu tubuh, serta diperiksa surat keterangan bebas Corona.

Rubrik:ACEH

Komentar

Loading...