Foto dengan Kepala Negara Lain,

Jokowi Ingin Selalu di Tengah

A A A

JAKARTA - Presiden RI Joko Widodo membuka rapat kerja kepala perwakilan RI (Raker Keppri), Senin (12/2) pagi, yang diikuti oleh 134 Keppri terdiri dari para duta besar dan konsul jenderal RI di seluruh dunia, serta pejabat Eselon 1 dan Eselon 2 Kementerian Luar Negeri. Dalam sambutannya, Presiden Jokowi memberi peringatan khusus kepada para dubes RI agar menyadari Indonesia sebagai negara besar dan tidak terus-menerus bermental inferior (rendah diri).

Jokowi meminta agar sikap sebagai negara besar bisa diterapkan dalam berbagai situasi, termasuk untuk membangun citra Indonesia di luar negeri. Salah satunya, presiden mendesak agar Indonesia tidak melulu meminta bantuan, tapi sudah saatnya untuk membantu negara lain.

“Kita ini sudah masuk negara di G-20, artinya kita sudah masuk golongan negara besar. Jangan lagi ada yang merasa inferior,” kata Presiden Jokowi yang hadir didampingi Menteri Politik Hukum dan HAM, Wiranto, Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, dan Menko Perekonomian Darmin Nasution.

“Saya selalu minta pada Bu Menlu dan dubes yang di tempat mau konferensi. Nanti makan malam kita duduknya di samping tuan rumah. Jangan di pojokan, kita negara besar, tidak mau saya,” kata tambahnya.

Jokowi menegaskan bahwa citra sebagai sebuah bangsa besar harus ditunjukkan ke negara lain. Misalnya dalam sebuah konferensi, posisi Indonesia harus diusahakan menonjol, juga dalam pameran perdagangan harus tampil dengan sebuah stand yang besar.

“Dalam konferensi dalam sesi foto saya minta kalau tidak sebelahan (dengan tuan rumah), ya selang satu kepala negara. Jangan sampai kita paling pojok, tidak mau. Ini untuk menunjukkan negara kita. Kita sudah masuk G20 tapi tidak merasa, hanya merasa negara kecil saja. Di ASEAN yang masuk G20 hanya kita,” tandas Jokowi.

Dalam konteks diplomasi ekonomi, Jokowi meminta agar diplomat Indonesia tidak bergantung pada pasar-pasar lama atau tradisional. Presiden mencontohkan dalam kunjungan ke Asia Selatan baru-baru ini, dia melihat banyak potensi perdagangan di negara seperti Pakistan dan Bangladesh.

Pasar Non-Tradisional
Jokowi menuturkan Pakistan contohnya sebagai pasar non-tradisional, memiliki potensi yang besar dengan jumlah penduduk 210 juta jiwa dan pertumbuhan ekonomi mencapai 7,2 persen. Sedangkan, Bangladesh juga memiliki penduduk sebanyak 160 juta jiwa dan pertumbuhan ekonomi sekitar 7 persen.

“Sudah pasar besar, pertumbuhan ekonomi tinggi. Ini kita harus garap serius. Mendag (menteri perdagangan) sudah saya perintahkan ikut pameran gede-gedean (di Pakistan). Jangan dirikan stand di pojok dekat toilet, tapi buka stand besar depan gerbang. Ini masalah image, persepsi kita sebagai negara besar,” kata Jokowi disambut tepuk tangan peserta raker.

Jokowi juga mendesak agar Kedutaan Besar RI menjadi contoh bagi instansi-instansi lain di Indonesia dengan melakukan reformasi sistem. Dia meminta dubes melakukan terobosan untuk masalah administrasi seperti pembuatan izin, visa, atau paspor.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi, mengatakan tema Raker Keppri tahun ini adalah “Diplomasi Zaman Now”. Menurutnya, kata “zaman now” adalah kunci dari segala perubahan pola pikir atau istilahnya, revolusi mental.

“Untuk memastikan Indonesia maju dan memastikan manfaatnya bagi masyakat dunia. Maka perubahan mindset harus dilakukan setiap diplomat Indonesia,” tandas Retno. Raker Keppri digelar mulai hari ini sampai Kamis (15/2).

Kode: 47
Sumber: beritasatu.com
Rubrik: Dunia

Komentar

Loading...