Janji PLN Tak Padamkan Listrik Ditagih

FOTO | ILUSTRASIIlustrasi PLN
A A A

Sehubungan PLTU Nagan Raya belum dapat beroperasi maksimal, sehingga turunnya tegangan di sisi Gardu Induk (GI) Banda Aceh, dengan sangat terpaksa kami harus melakukan pemadaman bergilir dengn pengaturan beban di sisi distribusi 20 kV,

T. Bahrul Khalid Deputi Manajer Hukum dan Humas PLN Wilayah Aceh

BANDA ACEH - Janji dan komitmen PT PLN Wilayah Aceh untuk tidak memadamkan arus listrik selama bulan suci Ramadan 1438 H guna memberikan kenyamanan dan kekhuyusukan bagi umat Muslim menjalankan ibadah puasa, ternyata tak terbukti alias ingkar janji.

PLN beralasan, pemadaman listrik yang terpaksa dilakukan terjadi akibat kerusakan yang dialami dua mesin pembangkit, sehingga tidak cukup daya yang dipasok ke pelanggan. Dua mesin pembangkit listrik yang rusak tersebut adalah gangguan unit Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di Nagan Raya, dan unit dua Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas (PLTMG) Arun di Lhouseumawe.

Namun, alasan tersebut agak sulit diterima karena selama ini sudah berbulan-bulan PLN Wilayah Aceh melakukan pemeliharaan mesin pembangkit tiap hari dan juga terjadi pemadaman listrik bergilir, sehingga pada saat tibanya bulan suci Ramadan tidak akan terjdi lagi pemadaman.

“Sehubungan PLTU Nagan Raya belum dapat beroperasi maksimal, sehingga turunnya tegangan di sisi Gardu Induk (GI) Banda Aceh, dengan sangat terpaksa kami harus melakukan pemadaman bergilir dengn pengaturan beban di sisi distribusi 20 kV,” kata Deputi Manajer Hukum dan Humas PLN Wilayah Aceh, T. Bahrul Khalid, Minggu (28/5).

Menurutnya, kerusakan mesin terjadi sejak 16 Mei 2017 lalu. Penghantar transmisi 150 kV Sigli-Nagan Raya ada gangguan menyebabkan PLTU Nagan Raya unit 1 (65 MW) dan 2 (64 MW) trip hal ini menyebabkan tegangan suplai ke Aceh terganggu (turun sampai 132 kV).

Pemadaman Bergilir
Karenanya, pihak manajemen PLN Aceh dengan sangat terpaksa melakukan pemadaman bergilir per tiga jam untuk wilayah Banda Aceh, Aceh Besar, Sigli, Pidie Jaya, Aceh Barat, Aceh Jaya, Bireuen, Aceh Utara, Kota Lhokseumawe, Aceh Timur, Kota Langsa, Aceh Tamiang.

Bahrul Khalid menjelaskan, turunnya produksi listrik hingga 74 MW menyebabkan listrik di sebagian wilayah Aceh padam. Berdasarkan laporan petugas di lokasi, hal itu diduga karena masalah pada pendingin pembangkit listrik tersebut.

“Pemadaman untuk menaikkan te­gangan suplai agar tidak terjadi pemadaman yang lebih besar (blackout). Tentunya pihak PLN terus berupaya secepat mungkin untuk menyelesaikan kondisi ini. Sekali lagi kami atas nama PLN Aceh memohon maaf atas ketidaknyamanan ini. Semoga sistem kelistrikan Aceh dapat segera pulih kembali,” ujar Bahrul Khalid didampingi Manager PLN Area Banda Aceh, Wahyu Ahadi.

GM PT PLN Wilayah Aceh, Jefri Rosiadi menambahkan, kondisi arus listrik di Aceh pada bulan puasa tahun ini me­mang belum juga memberikan kenyamanan bagi masyarakat. Pasalnya, PLT­MG Arun di Lhokseumawe dan PLTU di Nagan Raya yang menjadi andalan utama sumber listrik di Aceh belum beroperasi normal.

“Untuk mengatasi beban puncak setiap malam butuh daya listrik 340- 350 MW. Sekitar 180 MW di antaranya masih dibantu pembangkit listrik di Sumatera Utara,” ujar Jefri.

Untuk mengurangi wilayah pema­daman listrik bergilir, pihaknya terus berupaya mendorong pembangkit pembangkit listrik di Aceh agar pada minggu kedua bulan puasa bisa beroperasi normal. Misalnya, PLTMG Arun. Kapasitas mesinnya 180 Megawatt (MW), tapi kini hanya bisa menghasilkan 80 MW, karena beberapa unit mesinnya rusak dan sedang diperbaiki.

“Kondisi listrik di Aceh baru aman dari ancaman pemadaman bergilir, setelah ada tambahan pasokan dari PLTMG Arun dan PLTU Nagan Raya sebesar 90-100 MW. Alasannya, karena pasokan daya listrik yang ada sekarang ini, 330-350 MW, hanya cukup untuk menangani kebutuhan beban puncak antara 330-350 MW. Jika satu unit mesin pembangkit terganggu dan terhenti beroperasi, maka akan ada daerah yang harus mengalami pemadaman bergilir,” jelasnya.

Warga Kecewa
Warga di Kota Banda Aceh, Aceh Besar dan Kabupaten Pidie menyatakan sangat kecewa dan mengecam keras terhadap pemadaman listrik oleh PLN Aceh selama bulan puasa, terutama di waktu-waktu penting seperti menjelang buka puasa dan salat Magrib, saat salat Tarawih dan ketika makan sahur

Pemadaman listrik berlangsung sampai tiga jam sehingga sangat mengganggu warga yang membutuhkan penerangan malam hari. Diharapkan pemadaman tanpa pemberitahuan ini tidak terus berlanjut selama bulan Ramadan supaya tidak menganggu kenyamanan warga. Karena sebelumnya pihak PLN sudah menyatakan tidak ada pemadaman listrik selama Ramadan.

“Ini sangat mengecewakan, kami sekeluarga dan warga di sini terpaksa buka puasa malam ini dalam suasana kegelapan akibat PLN melakukan pemadaman listrik,” ujar Syah­ril, warga Lamteumen Barat, Banda Aceh.

Hal yang sama juga disampaikan Azhari, warga Pango, Kecamatan Ulee Kareng. “Apa juga pemeliharaan mesin yang dilakukan PLN selama ini agar tidak ada lagi pemadaman, sekarang dalam bulan puasa listrik tetap padam juga. Kami pertanyakan komitmen bapak-bapak pimpinan PLN Aceh,” kata Azhari.

Kode:47
Sumber:ANALISA
Rubrik:Aceh

Komentar

Loading...