Sebanyak 2.303 calon pengantin di Aceh melaksanakan akad nikah sepanjang April-Mei 2020. Hal tersebut disampaikan Kepala Bidang Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariat Kanwil Kemenag Aceh, Drs H Hamdan MA. Menurut Hamdan, di tengah masa darurat Covid-19 dan pembatasan larangan akad nikah di luar KUA sejak April-Mei, tercatat 3096 pendaftaran nikah di KUA ----- Memasuki hari ke enam lebaran Idul Fitri 1441 Hijriah, puluhan pekerja bangunan dari Sumatera Utara mulai tiba di Kabupaten Bener Meriah. Hal itu disampaikan Ketua Tim Publik Safety Center (PSC) 119 Kabupaten Bener Meriah Zulkifli Burhanuddin saat dikonfirmasi awak media via seluler, Senin (1/6/2020) ----- Aksi pengerusakan Kantor Reje (Kepala) Kampung di Kecamatan Bukit kembali terulang, dimana sebelumnya dua kantor Reja Kampung di Kecamatan Bukit yakni Kampung Blang Tampu dan Blang Panas diobarak abrik masyarakat disana. Peristiwa itu juga dialami Kantor Reje Kampung Kute Kering Kecamatan Bukit, warga yang didominasi kaum ibu-ibu mengamuk dan memecahkan kaca jendela baigain depan, Senin (1/6/2020)

Pengamat Ekonomi Dr Rustam Effendi:

Interaksi Sosial Dibatasi Berimbas Pada Sektor Ekonomi

HT ANWAR IBRAHIMPengamat Ekonomi Dr. Rustam Effendi
A A A

Yang tersangkut dengan pajak perlu diberi sedikit kelonggaran, atau menunda kewajiban sementara waktu

Rustam Effendi, SE, M.Econ, Ph.D (Cand) Pengamat Ekomomi

BANDA ACEH - Pembatasan interaksi sosial, terutama untuk membatasi jarak secara fisik (physical distancing) sejak beberapa hari terakhir diberlakukan dapat dipastikan berimbas pada sektor ekonomi. Interaksi dan transaksi ekonomi akan menjadi sangat terbatas.

Pasar-pasar, baik yang modern maupun tradisional akan sepi, tanpa pembeli. Para penjual akan kehilangan omzet penjualan sangat signifikan.

Hal itu diungkapkan oleh Rustam Effendi SE MEcon PhD (Cand),  pengamat ekomomi dari Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh, Selasa (31/3/2020

"Amatan kita, warkop, cafe, warung nasi, restoran, di Banda Aceh, misalnya, nyaris tidak ada yang buka. Begitu juga dengan para pedagang kecil, penjual di kios-kios, meski masih membuka usahanya, tapi juga nyaris tidak ada pembelinya," kata Rustam.

Akibat ini semua akan mengganggu transaksi ekonomi- bisnis di daerah ini sebagai imbas dari pembatasan interaksi sosial, apalagi ditambah dengan pemberlakuan jam malam sejak sabtu malam.

Kemudian pertanyaannya, kebijakan apa yang dapat ditempuh pemerintah daerah?

Rustam menjelaskan, menurut dirinya, ada dua sisi yang harus dijaga, yaitu sisi penawaran (supply) dan permintaan (demand).

"Jadi menurut saya dua hal itu yang harus jadi atensi pemerintah," katanya.

Misalnya dari sisi supply (produsen atau penjual/ pedagang), terutama pelaku usaha kecil dan mikro harus diberikan bantuan modal penyangga usaha untuk menutupi kebutuhan mereka dalam jangka waktu tertentu (selama masa darurat).

Bantuan ini jika tidak dapat secara percuma, bisa diatur dengan skema pengembalian yang ringan dan mudah.

Dosen fakultas ekonomi Unsyiah ini juga menyarankan, jika mungkin disertai pula untuk mareka bantuan Jadup berupa beras, minyak goreng, gula, atau lainnya. Bagi yang ada terikat atau mengambil kredit bank, perlu diupayakan bantuan relaksasi dengan penjadwalan atau pengenduran cara atau sistem bayar.

Dan hal ini kata Rustam Effendi harus diupayakan oleh Pemerintah Aceh dan kebijakan nasional yang sudah diarahkan oleh Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) menjadi acuan sehingga bantuan benar-benar sampai pada level terbawah dan diimplementasi secara sungguh- sungguh.

Untuk yang punya kewajiban pajak, pemerintah disarankan dapat memberikan kelonggaran atau terlebih dahulu ditunda untuk sementara

"Yang tersangkut dengan pajak perlu diberi sedikit kelonggaran, atau menunda kewajiban sementara waktu," saran Rustam.

Namun yang penting, sebelum semua ini dilakukan, harus dilakukan pendataan calon pedagang/produsen yang butuh bantuan dan besaran jumlahnya.

Menurutnya, pendataan tersebut dapat dikelompokkan sesuai kategori usaha (kecil, mikro) dan menurut wilayah pasar, atau kecamatan.

Sedangkan untuk sisi demand/pembeli/masyarakat, sudah sangat mendesak untuk dipercepat penyaluran bantuan jadup, sembako, dan diutamakan untuk mareka yang miskin atau tidak berpenghasilan tetap.

Gratiskan Internet Masa Darurat

Dengan merumahkan anak peserta didik di rumah selama masa darurat ancaman Corona Virus Disease (COVID-2019) ini, penting juga diperhatikan keluarga yang kurang mampu.

"Mereka perlu dibantu agar proses belajar- mengajar lebih maksimal," kata Rustam.

Misalnya, bantuan bisa dengan menyediakan akses bagi mareka untuk menjangkau materi layanan pendidikan yang diberikan oleh guru dengan pola belajar bukan di ruang kelas.

Menggratiskan internet untuk masa darurat ini penting diupayakan, termasuk bagi pihak pelaku usaha kecil-mikro yang butuh layanan sisial media (sosmed) untuk aktivitas jual-beli mereka.

"Tentu hal-hal seperti itu harus menjadi perhatian utama dari pemerintah," ujar

Rubrik:ACEH

Komentar

Loading...