Kasus peredaran ijazah palsu yang diduga berasal dari Dinas Pendidikan Kabupaten Bener Meriah adalah merupakan bom waktu bagi oknum pelaku. “Bagi oknum pelaku kesalahan ini adalah bom waktu, karena kasus yang terbongkar hari ini adalah merupakan ijazah beberapa tahun lalu, dan saat ini sudah ditangani penegak hukum," kata Sekda Bener Meriah, Drs Haili Yoga pada saat dikonfirmasi awak media di ruang kerjanya, Kamis (21/1/2021) “Hari ini kebetulan ditangani oleh pihak berwajib kita berikan ruang kepada mereka agar persoalan ini jangan timbul multi tafsir," ujarnya.

Akademisi:

Infrastruktur Berhasil Dorong Perekonomian Daerah

ISTIMEWAPengamat ekonomi dan pembangunan dari Unsyiah Dr. Mukhlis Yunus SE, MS
A A A

BANDA ACEH - Pembangunan infrastruktur di bawah komando Plt Gubernur Ir H Nova Iriansyah menurut pengamat ekonomi dan pembangunan dari Unsyiah Dr Mukhlis Yunus SE MS menilai sudah tepat, karena terbukti berhasil mendorong perekonomian daerah, sehingga mampu menekan angka kemiskinan.

Namun rakyat harus kompak dan tidak cepat puas dengan hasil pembangunan yang sudah dicapai saat ini, tapi pemerintah Aceh harus didorong untuk terus berinovasi agar dengan dana otonomi khusus (Otsus) yang besar dapat makin mengoptimalkan potensi daerah masing-masing  kabupaten terutama di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di pedesaan.

Hal tersebut diungkapkan oleh dosen pasca sarjana fakultas ekonomi Unsyiah kepada  acehimage.com, Jumat (24/1/2020).

Menurutnya hal itu penting diungkapkan untuk mengukur sejauh mana pembangunan infrastruktur menstimulasi pembangunan ekonomi di Aceh.

Mukhlis Yunus menyebutkan, Pemerintah Aceh dibawah Plt Gubernur Nova Iriansyah sangat menyadari bahwa proyek infrastruktur seperti membangun jalan tol, bukan hanya mengurangi waktu tempuh perjalanan ataupun mempercepat jalur logistik, tapi lebih jauh lagi mendorong dan menggerakkan ekonomi kerakyatan.

"Dulu Banda Aceh - Sigli  ditempuh dengan waktu 2 jam, tapi nanti saat jalan tol itu siap dibangun, hanya 50 menit - 1 jam saja. Tentunya kehadiran Infrastruktur ini akan mendorong berkembangnya ekonomi daerah," ungkapnya.

Kehadiran Infrastruktur juga mendorong industri pariwisata dan bisnis lokal diseputaran jalan tol.

Dia memperkirakan, jumlah pedagang kuliner juga akan meningkat setelah adanya Tol Banda Aceh - Sigli ini.

"Pembangunan infrastruktur mendorong pariwisata dan mampu menggerakkan ekonomi masyarakat sekitar," kata pakar ekonomi Unsyiah ini.

Mukhlis juga menyebutkan visi 'Aceh Hebat' pembangunan infrastruktur yang disampaikan Nova Iriansyah terkesan sangat sederhana, namun dengan kesederhanaannya itu dia berupaya bagaimana menghilangkan berbagai hambatan dan kendala (barriers) dalam pelaksanaannya. Termasuk membenahi daya saing dunia usaha dan masyarakat.

"Kita melihat bahwa investasi pembangunan infrastruktur di seluruh kabupaten/kota di Aceh ini telah berbuah manis, pemerintah secara signifikan berhasil menggerakkan sendi perekonomian rakyat. Memang belum keseluruhan, namun telah mampu membuat rajutan keekonomian yang terintegrasi.

Jujur saja dalam realita saat ini angka kemiskinan belum belum.begitu memuaskan, namun telah dapat ditekan dari sebelumnya yaitu September 2019 sebesar 15,01 persen atau 809,76 ribu orang, turun menjadi 0,31 point atau berkurang 9000 orang, dibandingkan Maret 2019 sebesar 15,32 persen atau 819,44 ribu orang.

Bilamana dibandingkan dengan data September 2018 sebesar 15,68 persen atau 831,50 ribu orang, turun 0,67 point atau berkurang 21 ribu orang.

Kendati demikian kata Mukhlis, dirinya merasa perlu mengingatkan Plt. Gubernur selaku pimpinan daerah bahwa pembangunan infrastruktur tanpa adanya interaksi dan koordinasi pemerintah daerah, investor dan komponen masyarakat pasti tidak dan sulit untuk di wujudkan.

Memang tak dapat dipungkiri, saat ini masyarakat kerap mempertanyakan kenapa pemanfaatan dana otonomi khusus (Otsus) semacam tak ada hasilnya.

Kenapa hal ini mareka (rakyat) pertanyakan, karena dana Otsus untuk Aceh yang sudah diberikan pemerintah cukup besar, diperkirakan telah mencapai sekitar Rp85,3 triliun.

Namun masih banyak juga masyarakat menilai bahwa dana otsus memang besar, tapi belum dibarengi dengan semangat membangun dari aparatnya yang memadai akhirnya  pemerintah Aceh terkesan masih kurang mampu menyejahterakan rakyatnya, akibat pemerintah dengan jajarannya dinilai kurang berenergi,termasuk mengatasi kendala dan mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya daerah yakni alam dan manusianya. Plt Gubernur dalam amatan kita sangat konsen dalam hal ini. Perlu dukungan kita semua tentunya

Gaya Kepemimpinan Humanis

Karena itu sudah saatnya pemerintah Aceh perlu mengubah sikap dan gaya  pelayanan, karena ekspektasi rakyat supaya pemerintah memanfaatkan dana otsus untuk kesejahteraan rakyat semaksimal mungkin.

Apalagi dana ini ditujukan terutama untuk membangun infrastruktur pendidikan, kesehatan, menciptakan kesempatan kerja, pemberdayaan ekonomi rakyat, pengentasan kemiskinan, serta pendanaan pendidikan, dan sosial.

Selain itu dana otsus juga untuk memperbaiki berbagai sarana dan prasarana penunjang guna menarik investor lebih banyak datang ke Aceh.

Mukhlis juga mengingatkan, ekonomi tidak akan maju kalau hanya dipacu dengan APBN atau APBA, tapi perlu menciptakan ling­kungan investasi dalam rangka membuka ke­sempatan kerja yang lebih luas.

"Nah, karena itu sikap dan gaya kepemimpinan dan pelayanan perlu dirubah agar lebih humanis lagi," ujarnya.

Rubrik:ACEH

Komentar

Loading...