Puluhan warga Desa Suak Raya, Kecamatan Johan Pahlawan, Kabupaten Aceh Barat menolak keberadaan pasien reaktif covid-19 di Puskesmas Pembantu (PUSTU) Suak Raya pada Selasa (07/07/2020). Sebelumnya, seorang awak Kapal Teluk Sinabang yang dinyatakan reaktif covid-19 setelah dilakukan tes cepat atau rapid test oleh Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) di pelabuhan Bubon, lalu di bawa ke PUSTU Suak Raya untuk dilakukan karantina sembari menunggu hasil uji swab keluar.

Akibat Covid-19

Industri Hotel di Banda Aceh Babak Belur

HT ANWAR IBRAHIMGeneral Manager (GM) Kyriad Muraya Hotel Aceh, Bambang Pramusinto
A A A

BANDA ACEH - Penyebaran corona virus disease (Covid-19) membuat industri perhotelan di Banda Aceh babak belur. Jumlah penghuni hotel turun dratis akibat berbagai kegiatan pemerintahan dibatalkan dan jumlah wisatawan yang bekunjung juga menurun. Bahkan ada hotel yang harus tutup sementara karena virus corona.

Kemudian ditambah lagi dengan kebijakan pemerintah pusat yang membatasi kunjungan bagi warga masyarakat.

"Jadi pandemi virus corona ini telah membuat bisnis hotel di Aceh dan pariwisata babak belur, bahkan ada yang harus tutup sementara," ungkap Bambang Pramusinto General Manager (GM) Kyriad Muraya Hotel Aceh, Sabtu, (11/2/2020).

Menurut Bambang Pramusinto, saat ini bisnis hotel menjadi salah satu yang paling terdampak oleh virus corona.

Hal tersebut terjadi semenjak pemerintah menutup akses bagi pemda membuat kegiatan termasuk di hotel-hotel di Banda Aceh.

Dengan penutupan akses otomatis seketika banyak pembatalan yang dilakukan di sejumlah hotel di Banda Aceh. Padahal 50 Persen tamu hotel adalah orang pemerintahan.

"Jadi kalau dilihat secara global, hotellah yang paling besar terkena risiko. Hotel kita misalnya dari total 126 kamar, tapi yang terisi hanya 5 kamar sehari. Sebelumnya pada saat keadaan normal, kamar terisi hingga 85 persen," ungkapnya.

Dengan kondisi seperti itu terpaksa sejak 15 Maret lalu pihaknya merumahkan 110 karyawannya.

"Semua karyawan kita rumahkan secara bergilir, sehari masuk cama 13 orang untuk menghandel 5 kamar, dan rata-rata mareka masuk kerja dalam sebulan hanya 12 hari," katanya.

Hal itu belum seberapa katanya,
karena dengan tidak beroperasi sejak 16 Maret 2020 hotel mengalami kerugian hingga akhir Maret mencapai Rp 1,2 milyar.

"Sedangkan di bulan April hingga akhir bulan nanti kita prediksi kerugian akan mencapai Rp 3 milyar," ungkap Bambang.

Jangan Abaikan wacana Pusat

Dari pertimbangan tersebut Bambang memohon kebijakan Pemerintah Provinsi dan Kota untuk membebaskan semua pajak, Air bersih, BPJS, stimulus dari PLN, relaksasi Perbankan serta subsidi atau insentif bagi karyawan perhotelan selama menghadapi pandemi Cohid - 19.

Apalagi setiap bulan kata Bambang, manajemen Kyriad Muraya harus membayar iuran BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan serta gaji. Secara keseluruhan total pembayaran yang harus dikeluarkan sebesar Rp 600 juta per bulan.

"Karena itu kita mohon ada aksi nyata dari pemerintah daerah, jangan hanya wacana di pusat tanpa diikuti pemda," kata Bambang Pramusinto.

Rubrik:ACEH

Komentar

Loading...