Sidang Paripurna Istimewa HUT Ke 812,

Illiza Beberkan Sejumlah Pencapaian

DSC_0284
A A A
Kita bangkit dari peperangan, bertahan dari dampak konflik, hingga berhasil menjadi kota percontohan yang dapat bertahan dari dahsyatnya bencana alam Gempa Bumi dan Tsunami, yang tercatat sebagai salah satu musibah terbesar di dunia. Sungguh Banda Aceh menjadi kota yang dewasa yang berhasil merubah berbagai cobaan tersebut menjadi pembelajaran dan semangat untuk maju,

BANDA ACEH – Hari ini, 22 April 2017 Kota Banda Aceh genap berusia 812 tahun. Peringatan Hari Jadi Banda Aceh digelar dalam Sidang Paripurna Istimewa DPRK Banda Aceh dengan agenda Peringatan HUT Kota Banda Aceh ke-812 Sabtu, (22/4/2017).

Sidang yang dipimpin Ketua DPRK, Arif Fadillah dan diikuti oleh mayoritas anggota, Walikota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal menyampaikan sambutannya. Illiza membeberkan sejumlah pencapaian selama memimpin Kota, baik saat masih bersama Alm Mawardy Nurdin maupun disaat dirinya memegang kendali bersama Wakilnya Zainal Arifin.

Dalam perjalanan usianya telah mengalami banyak hal, dapat dikatakan Banda Aceh sebagai kota yang tangguh karena dapat bertahan dengan berbagai macam gangguan dan hantaman.

“Kita bangkit dari peperangan, bertahan dari dampak konflik, hingga berhasil menjadi kota percontohan yang dapat bertahan dari dahsyatnya bencana alam Gempa Bumi dan Tsunami, yang tercatat sebagai salah satu musibah terbesar di dunia. Sungguh Banda Aceh menjadi kota yang dewasa yang berhasil merubah berbagai cobaan tersebut menjadi pembelajaran dan semangat untuk maju,” ujar Illiza mengawali sambutannya.

Lanjutnya, kemajuan tersebut terus terlihat jelas khususnya jika dilihat dari titik balik kehancuran yang dialami Banda Aceh setelah bencana Gempa Bumi dan Tsunami pada 26 Desember 2004, 13 tahun silam. Bencana yang menghancurkan lebih kurang 2/3 wilayah kota waktu itu memakan korban jiwa lebih dari 61 ribu penduduk, merusak 21 ribu lebih rumah, 169 unit sekolah, 25 unit sarana kesehatan, 63 unit kantor pemerintahan, dan 9 unit pasar, serta 302 Km jalan rusak. Banda Aceh saat itu dalam kondisi terpuruk, lumpuh, pelayanan publik tidak dapat berjalan, masyarakat kehilangan mata pencahariannya dan banyak diantara mereka yang harus belajar memulai hidup baru jauh dari lokasi kampung halamannya.

“Namun demikian, keterpurukan tidak melemahkan semangat kita, bahkan menjadi motivasi bagi Kota Banda Aceh untuk bangkit dan menjadi lebih baik. Pemerintah Kota Banda Aceh beserta seluruh masyarakat, komunitas, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan swasta telah berhasil bersama-sama membangun Kota Banda Aceh menjadi kota yang layak untuk semua. Layak bagi anak, layak bagi perempuan, layak bagi penyandang disabilitas, layak bagi manula, layak bagi pemuda, dan layak bagi kelompok-kelompok lainnya,” kata Illiza.

Berbagai perbaikan pembangunan kota terlihat jelas saat ini. Mulai dari meningkatnya kondisi fisik kota seperti perbaikan jalan, jembatan, bangunan serta berbagai sarana dan prasarana lainnya di berbagai bidang, juga berbagai aspek sosial seperti kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat, kualitas sumber daya manusia, tingkat kesehatan, serta peningkatan kualitas lingkungan dan ketahanan terhadap bencana.

Dalam kesempatan tersebut, Illiza membeberkan bukti-bukti keberhasilan perbaikan kualitas pembangunan di Kota Banda Aceh yang terlihat dari berbagai indikator pembangunan sesuai dengan target Visi dan Misi Kota Banda Aceh tahun 2012 – 2017.

“Fokus-fokus pembangunan selama lima tahun tersebut telah membawa berbagai perubahan ke arah yang lebih baik bagi Kota Banda Aceh. Meskipun tidak dapat dipungkiri, beberapa aspek masih membutuhkan perhatian lebih lanjut,” ujar politisi PPP ini.

Adapun beberapa pencapaian Kota Banda Aceh dibawah kepemimpinan Illiza, yakni bidang Syariat Islam yang ditandai dengan telah berhasilnya menguatkan kembali nilai-nilai Syariat sebagai bagian dari berbagai aktivitas kehidupan di Kota Banda Aceh. Syariat Islam saat ini menjadi dasar dari berbagai aktivitas pembangunan, baik dalam bidang pendidikan, layanan kesehatan, wisata halal (islami), serta aktivitas ekonomi dan kegiatan publik lainnya. Program Diniyah di Sekolah-sekolah Umum merupakan salah-satu keberhasilan dari bidang Syariat Islam.

Di bidang lainnya, seperti layanan kesehatan juga sudah mulai menerapkan layanan berbasis islami. Seperti pemberian dakwah dan penyediaan fasilitas shalat kepada pasien dan keluarganya pada ruang rawat, mengingatkan waktu sholat, dan lain sebagainya.

Di bidang infrastruktur, di usianya 812 tahun, Kota Banda Aceh juga telah menunjukkan kemajuan yang luar biasa. Kata Illiza, saat ini dapat menyaksikan secara langsung bagaimana perubahan infrastruktur kota kearah yang lebih baik telah tercapai.

“Data menunjukkan bahwa saat ini lebih dari 95% jalan di Kota Banda Aceh berada dalam kondisi baik. Pelebaran ruas jalan juga telah dilakukan demi kenyamanan dan keamanan masyarakat. Saat ini pembangunan Flyover dan Underpass juga sedang berlangsung untuk mengatasi kemacetan dan permasalahan traffic lainnya di Kota Banda Aceh,” ungkapnya.

Kemudian, pembangunan drainase juga terus mengalami peningkatan setiap tahunnya sejak tahun 2012. Saat ini tercatat total panjang saluran drainase mikro dan makro di Kota Banda Aceh adalah 2.434 KM, dengan rata-rata pembangunan dan perawatan di setiap tahunnya adalah sepanjang 14.530 KM. 83% saluran makro dan 77% saluran mikro tercatat dalam kondisi baik. Sebagai pendukung, Banda Aceh juga telah memiliki 9 buah rumah pompa dengan 129 pintu air yang tersebar di seluruh Kota Banda Aceh. Hal ini tentunya berpengaruh baik terhadap penanggulangan dan pengendalian banjir, khususnya banjir genangan.

Dibidang perumahan dan permukiman, Banda Aceh juga telah menunjukkan progres yang memuaskan. Saat ini tercatat lebih dari 91% rumah di Kota Banda Aceh sebagai rumah ber-sanitasi. Lebih dari 230 rumah sehat juga telah dibangun oleh Pemerintah Kota Banda Aceh baik dengan dana otsus maupun APBK. Selain itu Rusunawa bagi masyarakat menengah ke bawah juga telah tersedia.

Kemudian, untuk mendukung infrastruktur yang mendukung kesehatan lingkungan, Banda Aceh juga telah membangun 2 unit IPAL. Membangun dan merawat 115 taman aktif dan pasif yang turut mendukung pencapaian 23% RTH dari target sebanyak 30%. Sanitary Landfill berfungsi baik melayani lebih dari 88% sampah di Kota Banda Aceh dan saat ini telah dimanfaatkan sebagai sumber energi (waste to energy) yang disalurkan ke 23 rumah warga yang berada di lokasi sekitar TPA.

Di bidang pendidikan, Banda Aceh ditetapkan sebagai kota referensi pendidikan di Aceh. Kualitas pendidikan di Banda Aceh terlihat dari tidak adanya lagi masyarakat yang buta huruf, dengan angka putus sekolah sebesar 0% dan lama rata-rata sekolah sebesar 12,6. Angka Partisipasi sekolah pada kelompok umur 7 – 12 mencapai 100% sedangkan usia 13 – 15 tahun mencapai 99,12%.

Program pendidikan yang mendukung pencapaian SMART People di Kota Banda Aceh di design dengan berbasis islami sehingga generasi muda yang cerdas di Banda Aceh disiapkan memiliki pondasi kekuatan iman. Selain itu, sekolah di Banda Aceh juga memperhatikan konsep Green, menerapkan IT, serta berbagai ekstrakurikuler yang dapat mendukung pengembangan kapasitas anak.

Selain itu, untuk mendukung program Kota Inklusif, seluruh sekolah di Banda Aceh terdata sebagai sekolah Inklusi. Berbagai penghargaan baik di tingkat nasional dan internasional juga kerap di terima oleh siswa dan siswi di Kota Banda Aceh.

Lanjutnya, di bidang kesehatan, Banda Aceh saat ini memiliki total 85 unit fasilitas kesehatan. selain berbagai peningkatan kualitas sarana dan prasarana kesehatan, berbagai program layanan berbasis islami dan berbasis masyarakat terus diterapkan di Banda Aceh. 4 dari 11 Puskesmas saat ini telah mendapatkan ISO Manajemen Mutu dan RSUD Meuraxa baru-baru ini mencapai Akreditasi Paripurna.

Pencapaian lain, terlihat dari pembangunan ekonomi yang juga menjadi salah satu fokus utama pembangunan Model Kota Madani. “IPM Kota Banda Aceh dengan angka 83, tercatat sebagai IPM tertinggi kedua di Indonesia. Hal ini menjukkan bahwa tingkat kesejahteraan, kesehatan dan pendidikan di Kota Banda Aceh telah berada pada kondisi yang sangat baik,” tambah Illiza.

Di bidang pariwisata, kunjungan wisatawan mancanegara bahkan meningkat hingga lebih dari 300% dari angka 4.324 kunjungan di tahun 2012 menjadi 15.596 kunjungan di tahun 2016. Kondisi ini berdampak pada geliat ekonomi di Banda Aceh. Indokatornya, pendapatan perkapita penduduk Kota Banda Aceh mencapai lebih dari 58 juta Rupiah, lebih tinggi dari tingkat Nasional, yakni 48 juta rupiah. Pertumbuhan ekonomi juga terus meningkat hingga lebih dari 5%.

Selain itu, dala kesempatan tersebut Illiza juga menyampaikan sejumlah pencapaian dan prestasi lainnya, seperti reformasi birokrasi dan system e-government dalam upaya menuju pembangunan clean and good governance. Kemudian pemanfaatan IT dengan melahirkan sejumlah aplikasi online untuk berbagai jenis pelayanan kepada masayarakat.

Di akhir sambutannya, Illiza menitipkan estafet pembangunan Kota Banda Aceh kepada Walikota dan Wakil Walikota terpilih, Aminullah Usman dan Zainal Arifin, untuk mengarahkan Banda Aceh kepada kegemilangannya. Sebagaimana diketahui, Amin-Zainal merupakan pemenang Pilkada Banda Aceh tahun 2017 yang diselenggarakan February lalu. Amin-Zainal akan melanjutkan kepemimpinan Kota pada Juli mendatang.

Penulis:mkk
Editor:AK Jailani
Fotografer:AK Jailani
Kode:47
Sumber:Release
Rubrik:Aceh

Komentar

Loading...