Aliansi Mahasiswa Aceh (AMA) kembali medesak Plt Gubernur untuk mempublikasikan penggunaan anggaran hasil refocusing maupun BTT dalam APBA 2020. AMA mengaku tidak berhenti menyuarakan hal tersebut sebelum tuntuntan mareka terpenuhi. Aliansi Mahasiswa Aceh memandang ada hal urgensi saat ini yang harus diprioritaskan oleh Pemerintah Aceh selama masa Pandemi COVID -19, seperti sektor kesehatan, pendidikan maupun sektor ekonomi.

Akademisi Apresiasi Ketua Golkar

Identitas Aceh Semangat Memperkuat MoU

ISTIMEWADr.Taufiq Abdul Rahim, SE.,M.Si
A A A

BANDA ACEH - Akademisi yang juga pengamat politik dan pembangunan dari Universitas Muhammadiah (Unmuha) Aceh Dr Taufiq Abdul Rahim SE MSi mengapresiasi pernyataan Ketua Partai Golongan Karya (Golkar) Aceh, Teuku Muhammad Nurlif yang menggagas ide agar semua masyarakat Aceh supaya mendorong dirumuskan sebuah regulasi yang mengatur tentang pelestarian identitas masyarakat Aceh.

Memang menurut Taufiq Abdul Rahim, seluruh komponen masyarakat Aceh perlu diajak untuk peduli dan terus mengingat identitas Aceh, seperti bahasa, budaya dan simbol- simbol lainnya.

Hal itu diungkapkan Taufiq, menjawab acehimage.com, Sabtu (25/7/2020), terkait pernyataan ketua Golkar Aceh tersebut.

Taufiq mengatakan, yang menjadi alasan kenapa ia mengapresiasi pernyataan Ketua Golkar Aceh itu, karena apa yang disampaikannya, dinilai bukan sekedar retorika semata.

Karena politikus Golkar itu memikirkan kepentingan daerah. Identitas Aceh itu jauh lebih penting dijaga dari pada kelompok, apalagi diri pribadi.

"Saya melihat bagi Pak Nurlif, menjaga identias Aceh harus secara intens, maka perlu ada regulasi untuk mengatur pelestarian identitas daerah sendiri," kata Taufiq.

Sesungguhnya kata Taufiq, apa yang diungkapkan mantan Sekjen Pemuda Pancasila itu secara filosofis merupakan pesan terhadap penguatan Memorandum of Understanding (MoU) Helsinki 2005 bahwa Aceh itu memiliki identitas ke-Acehan.

Karena itu ujar Taufiq A Rahim, sebaiknya memang ide atau gagasan itu perlu didorong dalam Qanun Aceh. Selama ini yang sudah dilakukan adalah, identitas simbol (bendera dan lambang) dan hymne Aceh, sebagai bahagian dari identitas politik.

Namun saat ini belum adanya kepastian, meskipun sudah dilembar ke daerah. Namun masih diperlukan proses politik yang bijaksana jika ini ingin dipertegas sebagai sebuah upaya Aceh memiliki identitas.

"Nah, karena itu kita sepakat dengan ide identitas keacehan pada seluruh dimensi serta aspek kehidupan, ini mesti dilakukan secara simultan," tutur akademisi Unmuha ini.

Hal itu katanya merupakan tugas seluruh elemen masyarakat. "Jadi jangan hanya terjebak kepada simbol budaya, bahasa dan beberapa hal yang bersifat parsial semata, maka dibutuhkan regulasi atau qanun," kata Taufiq.

Menurutnya, hal itu merupakan tugas semua pihak, dengan dukungan partai politik yang dapat menindaklanjuti kepada lembaga legislatif selaku pembuat Qanun identitas Aceh.

Menggali nilai-nilai identitas Aceh dari semua aspek

Bahkan jika perlu terhadap perilaku, tindak tanduk dan gerak-gerik pemimpin dan elite Aceh sehingga ketika dilihat oleh orang luar, secara otomatis menunjukkan atau langsung dikenal sebagai elite dan pemimpin dari Aceh.

Kemudian tugas selanjutnya dapat mengidentifikasi dan menginventarisir, sesungguhnya apa saja yang mesti diatur kedalam Qanun Aceh sebagai identitas Aceh.

Namun hal ini tidak dilakukan setengah hati, juga perlu pertimbangan bahwa, identitas Aceh ini mesti diperjuangkan secara rasional serta sadar dilakukan seluruh masyarakat dan atau seluruh elemen masyarakat Aceh.

Sehingga identitas Aceh dari dimensi ekonomi, politik, sosial, budaya, bahasa, adat-istiadat, perilaku dan berbagai dimensi penting dalam kehidupan sesuai dengan identitas Aceh yang berlandaskan Syari'at Islam, dan beralaskan kearifan lokal.

"Makanya penggalian nilai-nilai identitas Aceh keseluruhan aspek dan dimensinya tidak dilakukan setengah-setengah atau parsial," ujar Taufig lagi.

Selain itu juga jangan sampai ada yang dirugikan dengan usaha menegakkan identitas Aceh ada elemen ataupun unsur masyarakat yang terdiskriminasi serta mendapatkan perlakuan tidak baik serta bijaksana, hanya karena persoalan identitas Aceh yang sesungguhnya untuk kebaikan dan keharmonisan semua rakyat Aceh.

Rubrik:ACEH

Komentar

Loading...