Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) dari Fraksi Partai Aceh Sulaiman SE menyarankan kepada eksekutif yang ingin menyusun panduan protokol kesehatan dalam rangka menyambut New Normal di Aceh agar memasukan sejumlah kebutuhan kesehatan masyarakat untuk meningkatkan imunitas tubuh bagi masyarakat.

Ekonomi Sulit di Tengah Pandemi

Dok PribadiNadia Syahputri
A A A

Oleh: Nadia Syahputri

Semenjak “meledaknya” isu covid-19 di kalangan masyarakat dunia, hampir segala aktivitas umat manusia terpaksa harus di tunda. Program kerja pejabat, pemborong, bahkan kuli bangunan sekalipun terpaksa harus dibatasi.

Secara perlahan tapi pasti, semua derajat manusia terlihat sama dalam kacamata sosial. Harta, tahta, bahkan wanita sekalipun tak lagi berguna di hadapan makhluk kecil yang disebut Corona. Dengan harta yang bergelimangan sekalipun, takkan menjamin seseorang dapat beraktivitas bebas seperti biasanya, ia tetap harus berdiam diri dirumah.

Selanjutnya, dengan tahta yang berkedudukan sebagai raja pun tak akan membuat corona takut kepadanya. Hal itu membuktikan bahwa corona merusak segala hal dalam tata kehidupan manusia.

Hal lainnya yang paling parah terdampak dari munculnya virus corona adalah dibidang ekonomi masyarakat, baik itu secara makro maupun mikro. Masalah ekonomi yang tidak stabil menyebabkan keresahan di kalangan masyarakat akibat naiknya harga bahan pokok.

Selain itu, ditengah pandemi corona yang memaksa masyarakat tidak beraktivitas diluar tentunya harus memikirkan kebutuhan primer terlebih dahulu mengingat selama wabah berlangsung mayarakat tidak akan dapat bekerja seperti biasanya.

Indonesia sendiri terdepak sangat jauh setelah nilai tukar rupiah yang hampir mendekati Rp. 16.000/US Dolar. Jatuhnya harga rupiah baru-baru ini hampir mendekati masa krisis terbesar dalam sejarah ekonomi Indonesia atau yang lebih dikenal dengan krisis moneter pada tahun 1998.

Kenaikan beberapa bahan pokok akibat pandemi corona menyebabkan masyarakat berbondong-bondong melakukan aksi panic buying mengingat stok sembako akan menipis karena dampak virus corona.

Momen ini kebetulan juga berdekatan dan bahkan terjadi pada bulan suci Ramadhan. Kenaikan harga bahan pokok di kalangan masyarakat dipicu oleh permintaan pasar yang besar dan ketersedian barang yang sedikit. Hal tersebut didukung oleh Sadono Sukirno berdasarkan teori ekonomi, harga akan naik apabila permintaan naik tetapi penawaran dalam jumlah sedikit.

Menurut teori tersebut, terdapat kemungkinan bahwa pedagang akan berlaku curang dengan cara menimbun barang-barang sampai akhir bulan Ramaḍhan dan kemudian barang tersebut baru akan dijual. Kondisi tersebut akan terkombinasi dengan dampak corona yang menyulitkan konsumen memperoleh barang sehingga membuat pedagang melihat suatu peluang mendapat keuntungan yang lebih besar jika barang-barangnya dijual pada selama bulan Ramaḍhan (terutama sembako) karena pedagang sudah memperediksi bahwa permintaan pada bulan Ramaḍan akan meningkat.

Oleh karena itu, sangat penting bagi masyarakat mengetahui bagaimana peran para pedagang dan bagaimana dampak positif dan dampak negatif pada bulan suci Ramaḍhan. Dalam hal ini, kenaikan harga dapat dipicu oleh dua hal sekaligus dimano momen meluasnya wabah virus corona terjadi pada bulan Ramadhan. Antisipasi yang dapat dilakukan oleh masyarakat adalah dengan tidak melakukan pembelian secara berlebihan.

Hal tersebut diajaran dalam ajaran Konsumsi Islam mengajarkan sangat moderat dan sederhana, tidak berlebih-lebihan, tidak boros dan tidak kekurangan karena pemborosan adalah saudara-saudara setan. Konsumsi pada hakikatnya adalah mengeluarkan sesuatu dalam rangka memenuhi kebutuhan.

Konsumsi meliputi keperluan, kesenangan dan kemewahan. Kesenangan atau keindahan diperbolehkan asal tidak berlebihan, yaitu tidak melampaui batas yang dibutuhkan oleh tubuh dan tidak pula melampaui batas-batas makanan yang dihalalkan. Konsumen muslim tidak akan melakukan permintaan terhadap barang sama banyak dengan pendapatan, sehingga pendapatan habis.

Sekalipun dalam kondisi wabah yang semaki menekan, masyarakat harus mengantisipasi segala hal dengan tenang untuk menghindari masalah ekonomi yang mengganggu kelangsungan hidupnya di hari berikut. Berperilaku seperti itu, dengan sendirinya ekonomi akan kembali, karena stabilnya daya beli yang dilakukan kosumen serta persediaan barang yang cukup di pasar.

Penulis merupakan Mahasiswi Psikologi UIN Ar-Raniry
Supervisor : Harri Santoso, S.Psi., M.Ed

Rubrik:OPINI

Komentar

Loading...