Isu dugaan pembelian tiga unit Kapal Aceh Hebat oleh Pemerintah Aceh yang diduga barang bekas terus bersileweran di laman media sosial. Apalagi setelah terjadi aksi unjuk rasa di depan Kantor Dinas Perhubungan Aceh tepatnya di Jalan Mayjend T Hamzah Bendahara No 52, Kuta Alam, Kecamatan Kuta Alam, Kota Banda Aceh beberapa waktu lalu. Bermula dari itu, masyarakat di Aceh ingin mengetahui terkait informasi akurat mengenai pengadaan Kapal Aceh Hebat, 1, 2, dan 3 tersebut. "Cuma kita lihat dari luar aja, cuma ditekan tombol besar sebagi bukti peluncuran ke laut. Lalu kami diajak ke tempat makan-makan dengan alasan kapal balik lagi," kata sumber media ini yang mengaku hadir pada saat itu.

Didukung Media, MPTT Mendapat Tempat Dihati Masyarakat

Para insan pers melakukan foto bersama dengan Abuya Syech H Amran Waly Al-Khalidy
A A A

BANDA ACEH - Abuya Syech H Amran Waly Al-Khalidy dalam pertemuan dengan insan pers selasa pagi menjelaskan tentang dinamika keberadaan MPTT-I ditengah masyarakat terkait ajaran tauhid tasawufnya.

Abuya yang juga Pimpinan MPTT-I Asia Tenggara itu mengatakan, memang ada ulama di Aceh yang setuju dengan keberadaan MPTT-I dan ada juga ulama yang tidak setuju.

“Yang tidak setuju menganggap bahwa ajaran tasawuf yang diajarkan Abuya dinilai sangat tinggi dan tidak diterima oleh akal, padahal ilmu tasawuf itu tidak tinggi dan itu merupakan perintah Allah untuk kita amalkan,” tutur Abuya kepada insan pers, Selasa (26/1/2021).

Dialog pengurus MPTT-I Aceh yang mengangkat tema “memperkuat kemitraan antara MPTT-I dengan media agar melahirkan informasi yang tabayyun”.

"Namun masih saja ada kalangan mengartikan secara sepotong-sepotong ajaran Tauhid Tasawuf yang saya ajarkan ini," kata Abuya.

Acara temu pers dilakukan di markas MPTT Gampong Pango Raya, Kecamatan Ulee Kareng, Banda Aceh dirangkai dengan peresmian kantor Media, tauhidirfarni.com.

Turut hadir juga H Tgk Syukri Daud (Abi Pango), Tgk H Sahal Tastary, Ketua Umum Pimpinan Pusat MPTT-I, dan sejumlah pengurus lainnya.

Sebebumnya Ketua Majelis Pengkajian Tauhid Tasawuf Indonesia (MPTT-I) Aceh, Teugku H Kamaruzzaman, mengatakan, masyarakat semakin paham akan keberadaan MPTT-I di Aceh.

Terbukti, saat ini bermunculan di media sosial dan kalangan masyarakat luas terhadap keberadaan MPTT-I semakin baik lantaran pemberitaan yang ditulis wartawan diberbagai media tentang MPTT-I makin positif.

Temu pers tersebut dirasa sangat istimewa, apalagi acara itu langsung dihadiri oleh Abuya Syech H.Amran Waly Al-Khalidy, yang juga Pimpinan MPTT-I Asia Tenggara.

Menurut Tgk Kamaruzzaman, saat ini hampir sepuluh ribu jama’ah diseluruh Aceh atau ribuan jama’ah lain diberbagai provinsi di Indonesia juga di Asia Tenggara dapat menikmati ibadah dengan tenang karena masyarakat semakin paham akan keberadaan tauhid tasawuf baik langsung maupun yang disajikan lewat media–media sosial serta media siber/online, media cetak, televisi dan radio selalu dalam bahasa yang menyejukkan.

“Oleh karena itu, MPTT-I di Aceh yang telah di akui keberadaannya hingga ke negara Asia. Ia pun memberikan apresiasi terhadap media dan masyarakat yang telah mensyiarkan kebenaran terkait keberadaan Pengkajian Tauhid Tasawuf yang semakin diminati oleh masyarakat sebagai bekal menghadapi hari akhirat,” kata Tgk Kamaruzzaman.

Walaupun sebelumnya kata Tgk Kamaruzzaman sempat tersiar kabar atau hujatan miring yang bermunculan karena disebabkan beberapa kalangan yang belum mengenal ajaran dari Abuya H Amran Waly Al-Khalidy.

“Bahkan ada kalangan mengartikan secara sepotong-sepotong ajaran Tauhid Tasawuf dari Abuya H. Amran Waly Al-Khalidy,” tutunya.

MPTT sudah dapat pengesahan Badan Hukum

Bahkan, ia menyebukan, telah terjadi beberapa kali aksi anarkis dengan membakar nama posko MPTT oleh kelompok anti MPTT, serta menyerang jamaah ketika hendak melakukan zikir.

Kecuali itu, dalam perjalanan pengkajian tauhid tasawuf ini, pihak pengurus bersama guru-guru dari dayah-dayah yang mendukung MPTT pernah juga melakukan audiensi dengan Gubernur Aceh untuk menyampaikan dinamika yang dihadapi para jamaah tauhid tasawuf di Aceh.

Kata Teungku Kamaruzzaman, Audensi juga dilakukan MPTT ke Polda Aceh serta instansi pemerintah lainnya untuk menjelaskan keberadaan MPTT-I di Aceh, sehingga saat ini suasana sejuk mulai menyelimuti para jamaah.

Bahkan kenyamanan semakin dirasakan oleh seluruh jamaah MPTT-I dan masyarakat yang selalu bergabung dalam setiap momen ceramah dan Zikir Rateeb Seribee.

Keberadaan MPTT-I di Aceh kata Kamaruzzaman sudah hampir 20 tahun dan kini sudah mendapatkan pengesahan Badan Hukum oleh Kemenkumham sebagaimana Surat Keputusan Nomor AHU-00764 AH.01.07 Tahun 2016 tanggal 21 Oktober 2016 tentang Pengesahan Pendirian Badan Hukum Perkumpulan Majelis Pengkajian Tauhid Tasawuf Indonesia Abuya Syekh Haji Amran Waly Al-Khalidy.

Rubrik:ACEH

Komentar

Loading...