Penyidik Kejaksaan Negeri (Kejari) Sabang melakukan penggeledahan Dinas Perhubungan Sabang dan SPBU Bypass, Rabu (2/12/2020). Penggeledahan dimulai dari pukul 10.00-13.00 WIB itu dipimpin Kasi Pidana Khusus (Pidsus) Kejari Sabang Muhammad Razi SH. Kegiatan penggeledahan tersebut dilakukan dalam rangka mencari barang bukti terkait kasus dugaan korupsi belanja BBM/Gas dan Pelumas serta suku cadang yang bersumber dari DPPA SKPD Dinas Perhubungan Sabang tahun anggaran (TA) 2019 sebesar Rp 1.567.456.331.

Di Kabupaten Aceh Besar:

Delapan Gampong Tidak Ada Irigasi, Bagaimana Petani Sejahtera?

ISTIMEWAPengamat sosial dari Universitas Abulyatama (Unaya) Usman Lamreung
A A A

BANDA ACEH - Pengamat sosial dari Universitas Abulyatama (Unaya) Usman Lamreung menyoroti masalah masih adanya kesenjangan. Karena meskipun sudah merdeka selama 75 tahun, namun

pembangunan yang belum merata, dan kesejahteraan serta kehidupan masyarakat di Kabupaten Aceh Besar masih terdapat kesenjangan.

Dikatakan bagaimana rakyat bisa sejahtera?. Coba dilihat masyarakat petani yang berada di sejumlah Gampong di Kecamatan Seulimeum sudah bertahun-tahun tidak pernah merasakan limpahan air irigasi mengairi sawah mereka.

“Ada delapan Gampong di Kemukiman Tanoh Abee, Kecamatan Seulimeum yang warga petaninya tidak pernah merasakan limpahan air irigasi,” ungkap Usman Lamreung kepada acehimage.cim, Senin (9/11/2020).

Kendati sebagian Gampong tersebut kata Usman berada di lintasan irigasi Daerah Aliran Sungai (DAS) Krueng Aceh, namun para petani disana tidak pernah merasakan air irigasi mengalir ke sawah mereka.

Kalau air tidak mengalir kesawah, petani tak bisa becocok tanam. "Nah, jika mareka tidak bisa nanam, otomatis tidak mendapat penghasilan. Jadi bagaimana mareka bisa sejahtera," ujarnya.

Karena itu ia menilai kondisi petani di delapan Gampong sangat miris, karena hingga saat ini tidak merasakan aliran air irigasi ke persawahan mereka.

Usman merincikan Gampong tersebut terdiri dari Gampong Pontjo Khop, Gampong Bak Situi, Gampong Meunasah Jumpa, Gampong Bak Aghu, Gampong Ujong Mesjid, Gampong Lamkhuk, dan Gampong Lamcarak.

Usaman juga sangat menyayangkan dengan potensi lahan yang subur, tapi mendapat atensi yang memadai dari pemerintah.

Padahal kata Usman, selain tanah subur juga luas total persawahan di Kemukiman Tanoh Abee tersebut, lebih kurang ada sekitar 300 Hektar.

Anehnya, meskipun delapan Gampong tersebut berdekatan dengan Waduk Seuneubok Kecamatan Seulimeum, Aceh Besar, tetapi sudah puluhan tahun hingga saat ini, sawah mereka belum ada irigasi.

"Karena itu, tak heran bila sampai hari ini, para petani di delapan Gampong itu, masih tetap mengandalkan sawah tadah hujan,” jelas Usman.

Menurut Usman, memang sebelumnya puluhan tahun lalu ada irigasi yang dibangun dan selama itu juga telah memberikan manfaat bagi warga di Kecamatan Seulimeum.

"Namun manfaatnya dari irigasi tersebut ada, tapi hanya dapat dirasakan oleh masyarakat yang berada di hilir arus air saja, tidak untuk masyarakat tani di delapan Gampung yang kita sebutkan tadi," tutur Usman.

Penyebabnya dikarenakan, posisi irigasi berada di bawah, sehingga air tidak sampai ke lahan pertanian yang posisinya berada lebih tinggi (di atas) dari irigasi.

"Kami yakin pemerintah pasti tau bahwa di Kemukiman Tanoh Abee, ada sekitar 700 kepala keluarga dan pekerjaan mereka adalah petani. Setiap tahunnya selalu dilanda kekeringan akibat tidak ada air,’ katanya.

BWS diminta menaruh perhatian dan bantu petani

Umumnya kata Usman, pendapatan ekonomi warga Kemukiman Tanoh Abee mareka peroleh dari hasil bertani.

Usman pun mengaku sangat miris dan merasa prihatin melihat kondisi warga petani di Kemukiman Tanoh Abee.

"Sudah seharusnya pertanian menjadi perhatian serius dari Pemerintah, baik itu Pemerintah Kabupaten Aceh Besar, Pemerintah Aceh serta Balai Wilayah I Sumatera (BWS)," ujarnya.

Ia mengaku heran dengan sebuah waduk yaitu Wadu Seuneubok. "Masak petani yang berada seputar Waduk Seuneubok ini tidak kebagian air irigasi, airnya hanya numpang lewat persawahan mereka langsung menuju ke hilir.

Menurut Usman hal itu sangat aneh, karena di wilayah ada waduk, namun petani tidak mendapatkan air irigasi yang mengalir ke sawah petani.

"Nah, ini artinya, pemerintah masih belum bersikap dan berlaku adil kepada masyarakat di hulu. Buktinya sampai sekarang belum juga ada solusi terkait permasalahan tersebut,” tutup Usman Lamreung.

Dia pun menyarankan, perlu ada respon cepat dari pemerintah dan dinas terkait untuk menyelesaikan permasalahan yang dialami oleh warga petani di Tanoh Abee agar mareka juga kebagian air irigasi sama seperti warga petani lain yang selama ini telah merasakan manfaat dari irigasi tersebut.

Rubrik:ACEH

Komentar

Loading...