Kasus positif Covid-19 di Kabupaten Aceh Selatan bertambah empat kasus baru. Dengan bertambahnya empat orang baru, kini jumlah kasus Covid-19 di Kabupaten Aceh Selatan menjadi 21 orang. Plt Kepala Dinas Kesehatan Aceh Selatan, Novi Rosmita menyatakan pasien yang terkonfirmasi positif Covid-19 itu berinisial DM (56) AI (30) AZ (34) dan MR (26).

Ekspektasi Rakyat

Dana Besar Sektor Riil Harus Bangkit 

FOTO | ISTIMEWADr. H. Mukhlis Yunus, SE, MS | Pengamat Ekonomi dan Pembangunan
A A A

Mereka egois berpikir hanya untuk kepentingan  pribadi dan secara moral dialihkan ke pihak lain. Padahal mereka memiliki kemampuan ilmu dan keahlian

Dr. H. Mukhlis Yunus, SE, MS Pengamat Ekonomi dan Pembangunan

ACEH - Pengamat ekonomi dan pembangunan dari Unsyiah Banda Aceh, Dr Mukhlis Yunus mengungkapkan, bahwa sejak 2008 hingga 2018 Aceh telah menerima dana otonomi khusus (Otsus) sebanyak Rp56,67 Triliun.

Meski dapat otsus puluhan triliun rupiah tapi pemerintah kurang mampu mengubah nasib masyarakat Aceh, bahkan ironisnya Aceh masuk dalam kategori miskin.

Selain itu, sektor ril di Provinsi Aceh juga tidak tumbuh positif. Salah satu yang menjadi  penyebabnya kata Mukhlis, karena ketidakmampuan pemerintah sebelumnya dalam mengelola keuangan daerah yang lebih pro rakyat.

Lagian visi misi yang dijanjikan pada setiap masa kampanye calon kepala daerah ternyata tidak mampu diwujudkan dalam realita pada saat sudah duduk sebagai kepala daerah terpilih.

Bahkan apa yang dikerjakan tidak sinkron dengan visi misi yang dicetuskan dimasa kampanye sebelumnya.

Kondisi seperti itu diharapkan tidak terulang dan terjadi pada kepemimpinan Plt Gubernur Ir H Nova Iriansyah saat ini dan kedepan.

"Ini menjadi PR besar bagi pemimpin Aceh saat ini bersama aparaturnya," kata Mukhlis Yunus saat berbincang-bincang dengan media ini di sebuah warkop di Banda Aceh, Rabu (14/8/2019).

Akademisi ini menyebutkan, persoalan bangsa terkait ekonomi makro dan mikro secara nasional mengalami masalah besar, termasuk di provinsi Aceh.

Konon di Aceh terjadi peningkatan pengangguran dari masa ke masa terus terjadi dan ini tidak mudah diatasi, tanpa program pemberdayaan ekonomi yang jelas.

Tetapi ironisnya, pemerintah dan  tokoh-tokoh ekonomi dalam esei juga sedang mati suri, mareka hanyut dalam konsep - konsep ekonomi konvensional yang tidak lagi mapan menyelesaikan masalah ekonomi daerah kekinian.

Menurut Mukhlis, ada kecendrungan mareka egois yang hanya berpikir kepentingan pribadi, mareka kurang mampu dan tidak  mau mengolah pikir bahkan mengabaikan profesionalitas, sehingga perekonomian di Aceh sulit didongkrak dan kurang mapan.

"Mereka egois berpikir hanya untuk kepentingan  pribadi dan secara moral dialihkan ke pihak lain. Padahal mereka memiliki kemampuan ilmu dan keahlian," kata mantan ketua KNPI Banda Aceh ini.

Karena kurang mampu dan tidak mau mengolah pikir juga mengabaikan profesionalitas, maka sulit mendongkrak pertumbuhan ekonomi Aceh, walaupun sumber daya alam kaya, tapi daerah sulit berkembang sehingga sangat berdampak pada rakyat yang hidup di sektor riil.

"Nah, semua ini karena kita lebih mengutamakan kehidupan politik. Coba kalau bicara soal politik past sangat responsivei, cepat tanggap  karena lebih menguntungkan pribadi ketimbang upaya - upaya kebangkitan ekonomi rakyat," ujarnya.

Ekspektasi rakyat agar janji politik yang disampaikan melalui visi misi harus dijadikan program saat Bappeda menyusun program pembangunan.

Bila dikatakan Aceh kekurangan dana untuk membangun ekonomi sektor riil, bukan suatu alasan, dan tidak rasional sebab Aceh memiliki dana otonomi khusus (otsus) yang hingga tahun 2018 sudah mencapai Rp56,67 triliun.

Tetapi apa yang terjadi di Aceh, justeru banyak dana, banyak pula angka kemiskinan, selain pengangguran juga terus bertambah.

"Secara fisik, pelaksananan pembangunan Aceh selama ini mengunakan metode tampal sulap. Hanya berjalan di tempat. Triliunan rupiah, tetapi tidak ada perubahan," ujar dosen senior Fakultas Ekonomi Unsyiah ini.

Ia menilai kondisi ekonomi Aceh seperti ini disebabkan ketidakmampuan pemimpin di era lalu, dan belum kita tau yang sekarang dan kedepan.

Kalau sebelumnya, mereka kurang konsent pada pemberdayaan ekonomi rakyat. Banyak program yang direncanakan tidak dikerjakan, tetapi yang dikerjakan justeru yang tidak pernah direncanakan, maka tak heran Aceh jauh tertinggal.

Oleh karena itu, untuk menumbuhkan ekonomi Aceh masa hadapan, masyarakat menginginkan Nova Iriansyah sebagai sosok yang diyakini mampu memberikan perhatian  terhadap pembangnan ekonomi daerah wujud implementasi visi misi yang telah dirancang sebelumnya dan dikembangkan didalam RPJM.

"Jadi saat ini rakyat Aceh berharap kepemimpin Plt Gubernur Aceh Ir H Nova Iriansyah MT memiliki nyali untuk membangun ekonomi rakyat dengan program pemberdayaan ekonomi yang handal," ujarnya.

Wartawan:HT Anwar Ibrahim
Rubrik:ACEH

Komentar

Loading...