Belum Ada Cindermata Khas Maluku Tenggara

Bupati Mencanangkan ‘One Village One Product’

FOTO | ISTIMEWAGua Hawang
A A A

BERKUNJUNG ke sebuah destinasi wisata rasanya belum lengkap jika tidak membeli oleh-oleh, entah itu untuk diri sendiri maupun orang lain. Buah tangan yang biasanya dibeli berupa cinderamata atau kuliner khas yang bisa dibawa pulang. Benda-benda itu dapat bertindak sebagai bukti wisatawan pernah datang berkunjung, atau kenang-kenangan bila kemungkinan kembali terbilang kecil.

Di Indonesia, mungkin tidak semua orang memiliki kesempatan untuk mengunjungi wilayah timur. Salah satu penyebabnya adalah karena aksebilitasnya yang kurang terjangkau. Padahal di sana memiliki keindahan alam yang luar biasa dan tak jarang mengundang minat wisatawan mancanegara untuk datang berkunjung.

Kepulauan Kei, Maluku bisa dikatakan sebagai destinasi wisata yang menjadi impian banyak orang. Di salah satu kabupaten yaitu Maluku Tenggara banyak obyek wisata yang mengundang decak kagum. Sebut saja Pantai Ngurbloat (Pantai Pasir Panjang), Pantai Ohoidertawun, Pantai Ngurtafur, dan Goa Hawang. Sayangnya, di sejumlah obyek wisata tersebut belum ada kerajinan tangan maupun makanan yang bisa dibawa pulang sebagai oleh-oleh.

Menurut Bupati Maluku Tenggara, Samuel Risembessy, sebenarnya ada beberapa tempat yang sudah memiliki hasil kerajinan tangan namun memang belum terorganisir dengan baik. "Saya sedang menggagas one village, one product sehingga dari setiap desa ada sesuatu hal yang bisa diunggulkan untuk dijual sebagai atraksi. Baik itu kuliner, kerajinan, hingga tarian atau seni lainnya yang bisa dilihat oleh wisatawan," tuturnya saat audiensi bersama media dalam kegiatan Press Tour yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata Maluku Tenggara baru-baru ini. Gagasan tersebut juga merupakan salah satu persiapan guna menyambut Wonderful Sail 2018 yang akan diselenggarakan Juli mendatang.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Dinas Pariwisata Maluku Tenggara, Roy Rahajaan juga memaparkan bila di daerah Pantai Pasir Panjang baru saja selesai dibangun pusat kuliner yang nantinya bisa dinikmati oleh wisatawan. "Pembangunan baru saja selesai tapi memang belum ada yang mengisi. Tahun lalu fokus kami adalah pelatihan penyiapan SDM, tahun ini penyiapan fasilitas obyek wisata dan melakukan kerja sama untuk pengelolaan website Kei Tourism. Ke depannya masyarakat akan dilatih untuk membuat souvenir," tambahnya.

Walau begitu, bukan berarti Kabupaten Maluku Tenggara tidak memiliki sesuatu untuk dijual. Di Ohoi Disuk masyarakatnya mengolah tempurung kelapa menjadi kerajinan tangan. Namun hingga saat ini penjualannya masih terkendala dan akan segera dimulai untuk melakukan sistem digital. Sekadar informasi, dulu sebenarnya ada cinderamata berupa kerang-kerangan tapi ternyata di pasar wisatawan asing belum laku sehingga tidak lagi dijual.

BERKUNJUNG ke sebuah destinasi wisata rasanya belum lengkap jika tidak membeli oleh-oleh, entah itu untuk diri sendiri maupun orang lain. Buah tangan yang biasanya dibeli berupa cinderamata atau kuliner khas yang bisa dibawa pulang. Benda-benda itu dapat bertindak sebagai bukti wisatawan pernah datang berkunjung, atau kenang-kenangan bila kemungkinan kembali terbilang kecil.

Di Indonesia, mungkin tidak semua orang memiliki kesempatan untuk mengunjungi wilayah timur. Salah satu penyebabnya adalah karena aksebilitasnya yang kurang terjangkau. Padahal di sana memiliki keindahan alam yang luar biasa dan tak jarang mengundang minat wisatawan mancanegara untuk datang berkunjung.

Kepulauan Kei, Maluku bisa dikatakan sebagai destinasi wisata yang menjadi impian banyak orang. Di salah satu kabupaten yaitu Maluku Tenggara banyak obyek wisata yang mengundang decak kagum. Sebut saja Pantai Ngurbloat (Pantai Pasir Panjang), Pantai Ohoidertawun, Pantai Ngurtafur, dan Goa Hawang. Sayangnya, di sejumlah obyek wisata tersebut belum ada kerajinan tangan maupun makanan yang bisa dibawa pulang sebagai oleh-oleh.

Menurut Bupati Maluku Tenggara, Samuel Risembessy, sebenarnya ada beberapa tempat yang sudah memiliki hasil kerajinan tangan namun memang belum terorganisir dengan baik. "Saya sedang menggagas one village, one product sehingga dari setiap desa ada sesuatu hal yang bisa diunggulkan untuk dijual sebagai atraksi. Baik itu kuliner, kerajinan, hingga tarian atau seni lainnya yang bisa dilihat oleh wisatawan," tuturnya saat audiensi bersama media dalam kegiatan Press Tour yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata Maluku Tenggara baru-baru ini. Gagasan tersebut juga merupakan salah satu persiapan guna menyambut Wonderful Sail 2018 yang akan diselenggarakan Juli mendatang.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Dinas Pariwisata Maluku Tenggara, Roy Rahajaan juga memaparkan bila di daerah Pantai Pasir Panjang baru saja selesai dibangun pusat kuliner yang nantinya bisa dinikmati oleh wisatawan. "Pembangunan baru saja selesai tapi memang belum ada yang mengisi. Tahun lalu fokus kami adalah pelatihan penyiapan SDM, tahun ini penyiapan fasilitas obyek wisata dan melakukan kerja sama untuk pengelolaan website Kei Tourism. Ke depannya masyarakat akan dilatih untuk membuat souvenir," tambahnya.

Walau begitu, bukan berarti Kabupaten Maluku Tenggara tidak memiliki sesuatu untuk dijual. Di Ohoi Disuk masyarakatnya mengolah tempurung kelapa menjadi kerajinan tangan. Namun hingga saat ini penjualannya masih terkendala dan akan segera dimulai untuk melakukan sistem digital. Sekadar informasi, dulu sebenarnya ada cinderamata berupa kerang-kerangan tapi ternyata di pasar wisatawan asing belum laku sehingga tidak lagi dijual.

Kode:47
Sumber:okezone.com
Rubrik:Travel

Komentar

Loading...