Manfaat Lebih Vaksin HPV

Bukan Hanya Menangkal Kanker Serviks

FOTO | ISTIMEWAIlustrasi
A A A

VAKSINASI HPV bukan hanya mencegah insiden kanker serviks, juga menekan angka penyakit kutil kelamin, infeksi, hingga lesi prakanker bahkan menciptakan herd immunity.

HPV (human papilloma virus), virus penyebab kanker serviks, menimbulkan beban kesehatan di seluruh dunia, tak terkecuali Indonesia. Ada sekitar 200 tipe HPV, tapi tidak semuanya bisa menyebabkan kanker (tipe onkogenik/risiko tinggi). Sebagian lagi tipe non-onkogenik (risiko rendah), tapi bisa menyebabkan kutil kelamin. Bukan berarti “aman” bila mengalami infeksi HPV yang tipe non-onkogenik.

“Sering juga terjadi infeksi campuran. Saya pernah menemukan sampai tujuh tipe HPV, gabungan onkogenik dan non-onkogenik,” tutur dr Andi Darma Putra SpOG(K) dari RSCM.

Penyakit yang bisa ditimbulkan oleh infeksi HPV bukan hanya kanker serviks, melainkan juga kanker vagina (60-90%), vulva (40%), orofaring (12-70%), bahkan juga kanker anal (>80%) dan kanker penis (45%) pada laki-laki. Juga kutil kelamin (100%). Lesi prakanker serviks stadium awal (CIN 1) bisa kembali normal dengan sendirinya, kemungkinannya 70%. Namun, 30% sisanya bisa berlanjut menjadi lesi kanker stadium tinggi (CIN3).

Bila sudah CIN3, lebih kecil kemungkinannya untuk kembali normal dan risikonya besar untuk berkembang menjadi kanker serviks. Untuk terjadinya perubahan selsel serviks normal menjadi kanker, butuh waktu paling cepat enam bulan hingga dua tahun. Bahkan, bisa sampai 15-20 tahun. Dampak vaksin HPV baru terasa sekitar 20 tahun kemudian, mengingat perjalanan penyakit kanker serviks membutuhkan waktu yang lama. Namun, keberhasilan dalam jangka pendek bisa terlihat dari vaksin HPV kuadrivalen dalam mencegah kulit kelamin.

Vaksin kuadrivalen memberi perlindungan terhadap empat tipe HPV; tidak hanya tipe onkogenik (16, 18), juga tipe non-onkogenik yang paling sering menyebabkan kutil kelamin (6, 11). Ini terlihat di Australia, yang memulai program vaksinasi HPV nasional dengan vaksin kuadrivalen pada 2007. “Setelah lima tahun, prevalensi kutil kelamin turun 80%,” ucap Kenneth Alexander MD PhD dari Nemours Children’s Hospital, Florida, Amerika Serikat (AS). Pada 2007 persentasenya pada perempuan usia <21 tahun hampir 12%, dan turun hingga <2% pada 2011. Demikian pula pada kelompok usia 21-30%; dari sekitar 12% pada 2007 menjadi <4% pada 2011. Pada perempuan yang tidak divaksin, tidak ada penurunan.

Nah yang menarik, prevalensi kutil kelamin pada laki-laki juga ikut turun. Padahal, laki-laki tidak divaksin. “Jadi, kita melindungi anak perempuan, tapi anak laki-laki pun ikut terlindungi. Tercipta herd immunity. Bisa kita simpulkan efikasi vaksin sangat tinggi,” sebut Prof Kenneth. Herd imunity adalah situasi dengan sebagian besar masyarakat yang bukan merupakan sasaran imunisasi dari penyakit yang bersangkutan terlindungi dari penyakit tertentu.

Drolet M dkk (Lancet Infectious Disease, 2015) meneliti efikasi vaksin HPV terhadap penyakit terkait HPV (infeksi, kutil kelamin, CIN2+) berdasarkan data retrospektif antara 1 Januari 2007- 28 Februari 2014. Dilakukan perbandingan insiden atau prevalensi infeksi HPV dan penyakit terkait HPV sebelum dan setelah implementasi program vaksinasi HPV nasional. Laporan ini mewakili >140 juta orang dengan follow up beberapa tahun. “Terjadi penurunan bermakna dalam infeksi HPV. Bahkan, di negara yang cakupan vaksinasinya rendah (cakupan <50%),” kata Prof Kenneth. Makin tinggi cakupan imunisasi, makin baik proteksinya.

Adapun studi meta-analisis oleh Garland SM dkk (Clinical Infectious Disease, 2016) menilai dampak dan efektivitas dari vaksin HPV kuadrivalen selama 10 tahun di 9 negara (Australia, Belgia, Kanada, Denmark, Prancis, Jerman, Selandia Baru, Swedia, AS), berdasarkan 58 publikasi. Hasilnya konsisten: terjadi penurunan bermakna antara lain pada prevalensi infeksi HPV tipe 6, 11, 16 dan 18 pada serviks dan vagina; kutil kelamin; CIN2; dan CIN3. Tampak penurunan besar di semua negara.

“Penurunan prevalensi yang paling besar terlihat pada usia yang lebih muda. Makin muda usia divaksin, makin besar manfaatnya,” kata Prof Kenneth.

Kode:47
Sumber:okezone.com
Rubrik:Kesehatan

Komentar

Loading...