Komisi IV DPRK Banda Aceh melakukan pertemuan dengan Kepala Dinas Kesehatan dan para kepala Pukesmas di Kota tersebut. Pertemuan ini membahas penanganan COVID-19 yang terus merambah di ibu Kota Provinsi Aceh. Ketua Komisi IV DPRK Banda Aceh Tati Meutia Asmara mengharapkan untuk daerah tersebut agar dilakukan pengadaan alat tes uji swab oleh Pemerimntah setempat. "Turut juga bertemu dengan direktur RSUD Meuraxa, dari pertemuan itu sangat banyak menemukan permasalahan baru, yaitu claster-claster baru yang terbentuk di Kota Banda Aceh," kata Tati Meutia Asmara kepada wartawan usai pertemuan dengan mitra kerja,Kamis (6/8/2020).

Hasil MQK I Aceh Tahun 2019:

Banda Aceh Belum Segemilang Impian

ISTIMEWABalai Kota Banda Aceh
A A A

BANDA ACEH -  Kota Lhokseumawe keluar sebagai juara umum Musabaqah Qiraatil Kutub (MQK) Ke-I Aceh Tahun 2019 yang diselenggarakan dari tanggal 29 November yang lalu.

Hal ini seperti yang diumumkan oleh Koordinator Dewan Hakim MQK Tgk H Faisal Ali (Lem Faisal) yang dibacakan oleh Ustad Muzakkir Sekretaris Dewan Hakim di Aula Jeddah Asrama Haji Embarkasi Aceh, pada Senin (02/12/2019).

Dari pengumunan yang diumumkan oleh dewan hakim, Kafilah dari Kota Lhoksemawe unggul dalam 5 cabang yaitu Fiqh Putri Predikat Juara 1, Akhlaq Putri Predikat Juara 1, Nawh Putra Predikat Juara 1, Pidato Bahasa Arab Putri Predikat Juara  1, dan Pidato Bahasa Indonesia Putra Predikat Juara 1.

Jadi dengan perolehan tertinggi itu, maka Kota Lhoksemawe berhasil membawa pulang Piala Bergilir MQK Ke-I Aceh Tahun 2019.

Kemudian disusul oleh Kabupaten Aceh Besar yang unggul dalam 4 cabang  diantaranya Fiqh Putra dengan Predikat juara 1, Tafsir Putra dengan Predikat juara 1, Tafsir Putri dengan Predikat Juara 1 dan Tarikh Putra dengan Prediket Juara 1.

Untuk perolehan juara ketiga diraih oleh Kabupaten Pidie yang unggul di 3 Cabang yaitu Ushul Fiqh Putra dengan Predikat Juara 1, Ushul Fiqh Putri dengan Predikat juara 1 dan Tauhid Putra dengan Predikat Juara 1.

FOTO | DINAS PENDIDIKAN DAYAH ACEH

 

Seperti diketahui, Pemerintah Aceh melalui Dinas Pendidikan Dayah menggelar Musabaqah Qiraatil Kutub (MQK). Kegiatan itu diselenggarakan untuk menjaga tradisi membaca dan mengaji kitab kuning di kalangan santri dayah 23 kabupaten/kota di Aceh.

Selain tiga daerah tadi, untuk perolehan selanjutnya secara berurutan yaitu Bireuen, Banda Aceh, Aceh Utara, Subulussalam, Aceh Selatan, Aceh Jaya, Nagan Raya, Langsa, Pidie Jaya, Aceh Tamiang, Aceh Tengah, Aceh Timur, Sabang, Aceh Singkil Bener Meriah dan Abdya.

Kota Lhokseumawe, Aceh, dikenal sebagai "Kota Petrodolar" pada masa jaya perusahaan gas PT Arun Natural Gas Liquefaction Co periode 1980-1990, akhirnya baru-baru ini juga membawa kabar bahagia untuk daerah tersebut, tak terkecuali Aceh secara umum dibidang perlombaan Musabaqah Qiraatil Kutub (MQK) Ke-I Aceh Tahun 2019.

Suasana Penutupan MQK Ke-I Aceh Tahun 2019 di Aula Jeddah Asrama Haji Embarkasi Aceh, Banda Aceh. | DINAS PENDIDIKAN DAYAH ACEH

Nah, Banda Aceh sebagai daerah di pusat ibukota Provinsi Aceh hanya berhasil memperoleh juara 5 pada Musabaqah Qiraatil Kutub (MQK) I Aceh Tahun 2019.  Begitu juga dengan MTQ tingkat Provinsi Aceh yang diselenggarakan di Kabupaten Pidie belum lama ini.

Ketua Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Kota (DPRK) Banda Aceh, Tati Meutia Asmara turut mengapresiasi atas raihan kafilah Kota Banda Aceh. Politisi PKS ini mengharapkan perlombaan tersebut dapat dijadikan sebuah ajang bangkitnya Aceh sebagai daerah yang memiliki banyak dayah dan santri.

“Sebuah terobosan baru di Provinsi Aceh oleh Dinas Pendidikan Dayah Provinsi Aceh. Acara yang dilaksanakan ini sangat kita harapkan menjadi ajang bangkitnya muatan lokal yang sesuai dengan budaya kekhasan Aceh, sebagai Nanggroe (daerah) yang memiliki banyak Dayah dan Santri,” demikian sebut Tati.

Dari sisi perolehan juara, Perempuan peraih suara terbanyak pada pemilu legislatif tahun 2019 mengakui, kota Banda Aceh masih jauh dari hasil yang diharapkan. Ia juga mengulang perolehan lama pada perlombaan MTQ tingkat Provinsi Aceh yang digelar di Kabupaten Pidie beberapa waktu yang lalu.

“Kita melihat dari capaian hasil MQK dan MTQ yang lalu di pidie jauh sekali,” urai anggota dewan dari fraksi PKS ini.

Memang, Banda Aceh dibawah kepemimpinan Aminullah-Zainal mengusung visi terwujudnya Kota Banda Aceh yang gemilang dalam bingkai syariah.

“Namun harus diakui melihat hasilnya, sudah barang tentu sebagai warga Banda Aceh kita berharap memiliki hasil yang unggul namun sangat disayangkan hasilnya. Menurut saya, (maaf) sampai saat ini gemilang dalam bingkai syariah masih belum sesuai dengan harapan,” tambah ketua Komisi IV DPRK Banda Aceh.

Kepada acehimage, perempuan yang pernah mejadi  ketua sementara DPRK Banda Aceh, mengatakan Kota Banda Aceh harusnya lebih mengoptimalkan di bidang syariat.

Tati Meutia Asmara saat diwawancarai oleh sejumlah wartawan.

“Tapi kita melihat dari capaian hasil MQK dan MTQ yang lalu di pidie jauh sekali. Pemko kita harap harus lebih serius untuk unggul dari sisi keistimewaan syariatnya, meski kita tetap apresiasi bahwa kita unggul dari sisi ekonomi dan olahraga,”terang Umi Tati—begitu dia sering disapa.

Sementara Ketua DPRK Banda Aceh Farid Nyak Umar ST dalam pidato perdananya, Selasa (8/10/2019) pernah menyampaikan untuk mewujudkan Banda Aceh gemilang dalam bingkai syariah, akan terwujud, jika semua bidang seperti ekonomi, pembangunan infrastruktur, sosial, kesehatan dan pelayanan publik, pelaksanaannya berlandaskan dengan nilai-nilai syariat islam.

Itu sebabnya ia mengajak semua elemen sesuai tupoksi dan posisi masing-masing untuk terus menerus berjuang mewujudkan visi kota Banda Aceh. Visi hidup dalam kegemilangan, visi tentang kejayaan dan kesuksesan di dunia dan akhirat.

“Maka untuk mewujudkan visi ini, kita berharap kiranya pihak eksekutif dapat betul-betul serius mendorong penegakan syari’at islam secara kaffah di wilayah hukum Banda Aceh, sesuai dengan amanah qanun yang berlaku di Aceh,”cetus Farid.

Politisi PKS ini mengingatkan, bahwa syariat islam adalah the way of life, yang akan menjadi rahmat bagi semesta alam jika sungguh-sungguh diterapkan dalam setiap dimensi pembangunan di kota Banda Aceh.

“Itulah makna Banda Aceh gemilang dalam bingkai syariah,” tutur Farid dihadapan para anggota DPRK, Wali Kota Banda Aceh, Wakil Walikota, Forkopimda dan tamu udangan lainnya.

Rubrik:ACEH

Komentar

Loading...