Nasir Djamil,

Bahas Nasib Bangsa Moro

FOTO | AK JailaniAnggota Komisi III DPR RI HM Nasir Djamil (kanan)
A A A

BANDA ACEH - Anggota DPR RI HM Nasir Djamil mengikuti kegiatan “Experience Sharing and Learning Session on Political Transition” yang diselenggarakan oleh United Nation Development Program (UNDP) Philippines Office. Kegiatan ini diselenggarakan di dua kota yaitu Jakarta dan Banda Aceh Pada tanggal 29 Januari sampai 1 Februari 2018.

Bertujuan untuk mendukung penguatan perdamaian dan stabilitas di wilayah Muslim Mindano (the Bangsamoro) Filipina, kegiatan ini dihadiri oleh Ketua, wakil ketua dan sejumlah pejabat tinggi dari Moro Islamic Liberation Front (MILF). Dari pihak Indonesia sendiri, diikuti oleh sejumlah tokoh perdamaian dan poltik di Aceh serta pemangku kepentingan lainnya di Jakarta.

Selama di Aceh, pihak MILF akan mengikuti beberap sesi panel diskusi dan melakukan internal meeting dalam rangka mempelajari proses perdamian dan transisi yang telah berhasil dilakukan antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Aceh. Diharapkan pihak MILF dapat mengambil pembelajaran positif dari proses perdamaian Aceh seperti metode negosiasi, membangun kesepakatan dan kesepahaman, serta kolaborasi kepemimpinan dalam hal pembentukan gerakan politik dan sosial dalam konteks otonomi daerah.

Munawar Liza Zainal, mantan negosiator GAM akan berbicara tentang transformasi dari geraakan besenjata kepada gerakan politik. Pada sesi panel yang sama, Muksalmina Anggota DPR Aceh dan Nur Djuli sebagai negosiator perdamaian Aceh dan mantan Ketua Badan Reintegrasi Aceh (BRA) akan berbicara tentang tantangan dalam proses transisi perdamaian Aceh.
Nasir Djamil sendiri sebagai anggota Forum Bersama (FORBES) akan membagi pengalaman dari proses perdamaian Aceh pada sesi panel berikutnya bersama Munawar Djalil (Dinas Syariat Islam) dan Mawardi Ismail (Akademisi Fakultas Hukum Unsyiah).

Politisi PKS ini menyambut baik program yang diinisiasi oleh UNDP Filipina, ia berharap Aceh dapat benar-benar menjadi contoh untuk dunia, terutama daerah-daeah yang masih menghadapi konflik vertikal terkait bagiamana suatu perdamaian dapat dicapai dengan baik.

“Kita berharap proses perdamaian Aceh tidak hanya membawa keberkahan bagi rakyat Aceh saja, melainkan juga menjadi kabar gembira dan optimisme bagi negara-negara lain bahwa perdamian dan proses transisi pasca konflik dapat dilaksanakan dengan baik atas dasar saling memahami dan salin mempercayai”. Ungkap Nasir.

Anggota DPR-RI Komisi III ini juga menyatakan semoga Aceh dapat menjadi kiblat baru sebagai daerah konflik yang berlangsung puluhan tahun dulunya, namun berhasil mencapai perdamaian dan stabilitas dalam kerangka otonomi daerah. “semoga ada banyak hal positif dan konstruktif yang dapat diambil oleh saudara-saudara kita di Moro (MILF) untuk penguatan perdamian dan stabilitas disana.

Program Sharing seperti ini juga sebenarnya merupakan amanah kostitusi kita dimana kita harus ikut dalam melaksanakan ketertiban dunia. Oleh karenanya program seperti ini wajib kita dukung bersama.” tambah Nasir.

Selama dijakarta, rombongan MILF akan bertemu dengan beberapa pejabat tinggi negara diantaranya Wakil President Indonesia Bapak Jusuf Kalla sebagai pimpinan negosiator Pemerintah Indonesia pada MoU Helsinki dan juga akan bertemu dengan Hamid Awaluddin sebagai mantan negosiator dari pihak Pemerintah Indonesia.

Disamping itu MILF juga dijadwalkan akan bertemu dengan Menteri Luar Negeri Indonesia dan dua organisasi masyarakat (ormas) besar di Indonesia yaitu Nahdatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah.

Fotografer:AK Jailani
Kode:47
Sumber:Rilis
Rubrik:Aceh

Komentar

Loading...