Sebanyak 281 warga Rohingya melarikan diri dari kamp penampungan sementara di BLK Lhokseumawe, Aceh. Mereka datang dalam dua gelombang, yaitu gelombang pertama terdampar di Aceh Utara sebanyak 99 orang, lalu di Kota Lhokseumawe sebanyak 297 orang. Total dari kedua gelombang itu 396 orang yang ditampung di Kamp BLK Lhokseumawe. “Mereka meninggalkan kamp tanpa sepengetahuan petugas. Mereka menggunakan jasa pihak ketiga untuk menyeberang ke Malaysia, karena sejak awal memang tujuan mereka Malaysia,” kata Mitra.

ARC-USK dan AAA Gelar Kegiatan Jak Saweu Gampong

ISTIMEWAPenandatanganan Nota Kesepahaman Kerjasama (MoU).
A A A

BANDA ACEH - Bertempat di Desa Pulo Seupeng Kecamatan Keumala Kabupaten Pidie, Aceh Australian Alumni (AAA), Atsiri Research Center (ARC) Universitas Syiah Kuala dan Gampong Pulo Seupeng, Minggu, 10 Januari 2021, melakukan Penandatanganan Nota Kesepahaman Kerjasama (MoU).

Dalam MoU disepakati Desa Pulo Seupeng akan menjadi binaan ARC Universitas Syiah Kuala (Unsiah) dan Aceh Australian Alumni (AAA).

MoU ditandatangani oleh Ketua Bidang Partisipasi Pembangunan Daerah AAA Dr Ir Dyah Erti Idawati MT, Ketua ARC Dr Syaifullah Muhammad ST MEng dan Kepala Desa Pulo Seupeng, Razali.

Penandatanganan disaksikan oleh anggota AAA, perangkat gampong dan juga masyarakat setempat.

Kegiatan tersebut merupakan Program Jak Saweu Gampong 2021 dan sekaligus juga dilakukan berbagai penyuluhan oleh Akademisi dan Praktisi dari Unsyiah, ARC-USK, Universitas Abulyatama (Unaya), RSUZA, Sekolah Pertanian Saree, Islamic Vocational School Alfata yang berhimpun dalam Alumni Australia Aceh, juga Bappeda Aceh serta DPMG Aceh.

Sedangkan materi penyuluhan meliputi Metode penyaringan karbon aktif, Budidaya nilam, Prokes COVID 19, Tanaman Obat, Pendidikan Karakter Usia Dini, Penentuan Arah Kiblat menggunakan aplikasi satelit.

Selain itu juga pemanfaatan energi matahari, Penggunaan Internet Sehat, Pemanfaatan lahan untuk tanaman sela dan kebun tanaman obat rumah tangga.

Semua materi itu disampaikan oleh Dr Syaifullah Muhammad MEng, dr Risya Firlana, Ema Dauyah MEd, Nadia Fajria Alfata, MEd, Dr Suhrawardi Ilyas MSc, Dr cut Dewi, Muslim Amiren MInfoTech, Ir Sugianto, MSc PhD, Edi Fadhil dan juga Abdul Hamid.

Kegiatan juga dirangkai dengan penyerahan alat penyaring air bersih karbon aktif, yang dilakukan oleh Dr Dyah Erti Idawati, selaku Wakil Ketua Alumni Australia Aceh juga Ketua PKK Propinsi Aceh.

Ketua ARC dan sekaligus Ketua Umum Aceh Australian Alumni (AAA), Dr Syaifullah Muhammad, dalam menyatakan bahwa penandatanganan Nota Kesepahaman ini adalah komitmen AAA, ARC, dan stakeholder lainnya untuk membantu dan mendukung pembangunan masyarakat gampong Pulo Suepeng. Sehingga nantinya dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat.

Dengan nada yang sama, Ketua ARC Syiah Kuala juga menyampaikan bahwa ARC siap mendampingi sepenuhnya pengembangan masyarakat Pulo Seupeng terutama pendampingan untuk pengembangan tanaman nilam dan membantu pemasaran minyak nilam kepada pihak Perancis.

“Seluruh negara di dunia maju karena peran kalangan terdidik yang turun ke masyarakat memberikan pengetahuan dan pengalaman, penerapan teknologi dan inovasi untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat serta dukungan program pembangunan dari pemerintah secara komprehensif," tutur Syaifullah.

Potensi dan situasi Desa Pulo Seupeng

Sebelumnya Keusyik Pulo Seupeng Razali, menyatakan rasa gembiranya terhadap kedatangan Alumni Australia dengan berbagai kegiatan penyuluhan, pemberian bantuan alat penyaring air dan berharap program-program yang telah direncanakan dapat berjalan.

Sehingga kata Razali masyarakat dapat memberdayakan dirinya dan gampong dengan sumberdaya yang ada.

Razali juga menguraikan potensi dan situasi Desa Pulo Seupeng yang sangat memerlukan dukungan dari pemerintah dan perguruan tinggi untuk lebih berkembang.

“Kami masyarakt Pulo Seupeng sangat mengharapkan uluran tangan Pemerintah untuk mendukung berbagai program desa khususnya terkait padi, nilam dan juga tanaman pertanian dan perkebunan lainnya.

Selain itu Pulo Seupeng juga berharap agar BUMG dapat berkembang dengan berbagai usaha berbasis gampong”, Jelas Razali.

Sementara itu Ketua PKK Aceh, Dr Dyah Erti Idawati, menyampaikan dukungan penuh dari Pemerintah Aceh untuk berbagai program pemberdayaan masyarakat gampong.

Dyah berharap agar masyarakat bisa kompak dan saling bersinergi agar bantuan pemerintah dapat digunakan secara optimal dan bermanfaat untuk pengembangan ekonomi masyarakat.

“Kami sering menemukan bantuan pemerintah kadang tersimpan begitu saja dan tidak tergunakan atau malah menimbulkan perselisihan antara masyarakat dengan apparat gampong.

"Nah, hal seperti ini harus dihindari karena akan menyebabkan dana pemerintaha akan terbuang sia-sia. Perlu identifikasi penerima bantuan pemerintah secara tepat oleh aparatur desa” ujar Dyah.

Rubrik:ACEH

Komentar

Loading...