Di Perang Yaman,

Arab Saudi Langgar Hukum Internasional

FOTO | AFPSejumlah warga berdiri di depan gedung yang hancur oleh serangan udara dalam konflik Yaman, 5 Desember 2017.
A A A
Citra Mohammed bin Salman yang memadai sebagai seorang reformis jatuh rata karena menghadapi bencana kemanusiaan di Yaman dan puluhan aktivis dan puluhan aktivis dan pembangkang politik berada di penjara-penjara Saudi atas tuduhan palsu,

NEW YORK - Arab Saudi telah melanggar hukum kemanusiaan internasional di Yaman dan secara tidak adil memenjarakan para aktivis yang mengupayakan reformasi sosial secara damai. Koalisi pimpinan Saudi yang melakukan pengeboman terhadap para pemberontak Houthi di Yaman, disebutkan telah melakukan 87 serangan melanggar hukum yang mengakibatkan hampir 1.000 warga sipil tewas.

Pernyataan itu dikeluarkan dalam laporan terbaru organisasi internasional pengawas hak asasi manusia (HAM), Human Rights Watch (HRW) yang berbasis di New York, Amerika Serikat (AS). Kelompok Houthi menguasi sebagian besar wilayah Yaman utara, dan aliansi Saudi didukung oleh AS dan Inggris, meluncurkan operasi militer pada Maret 2015 untuk mengeluarkan mereka.

Perang di Yaman telah menghancurkan negara termiskin di dunia Arab itu, dengan korban tewas mencapai 10.000 orang, penyakit berkembang biak, dan jutaan orang menghadapi kelaparan. Namun, koalisi pimpinan Saudi membantah tuduhan telah melakukan kejahatan perang.

Puluhan aktivis di Yaman juga dihukum atas tuduhan “samar-samar” akibat aktivitas damai mereka dan dikenai hukuman penjara panjang. Di pihak lain, Putra Mahkota Saudi yang berkuasa, Mohammed bin Salman, menyatakan ingin memodernisasi kerajaan dan memperkenalkan reformasi sosial.

Salah satunya, Mohammed mengizinkan perempuan menghadiri sebuah pertandingan sepak bola laki-laki untuk pertama kalinya pekan lalu, serta menghapus larangan satu dekade untuk menonton film di bioskop. Namun, HRW menilai langkah reformasi itu tidaklah cukup.

“Citra Mohammed bin Salman yang memadai sebagai seorang reformis jatuh rata karena menghadapi bencana kemanusiaan di Yaman dan puluhan aktivis dan puluhan aktivis dan pembangkang politik berada di penjara-penjara Saudi atas tuduhan palsu,” kata Direktur Timur Tengah HRW, Sarah Leah Whitson.

“Langkah awal atas reformasi hak-hak perempuan di Saudi tidak menutupi pelanggaran sistemik Arab Saudi,” tambahnya.

Sementara itu, Raja Saudi, Salman bin Abdulaziz Al Saud, memerintahkan pengiriman uang US$ 2 miliar kepada bank sentral Yaman, diklaim sebagai upaya mencegah gejolak ekonomi lebih lanjut karena perang Yaman. Pengumuman itu disampaikan Rabu (17/1) seperti diberitakan media pemerintah Saudi, SPA, atau sehari setelah perdana menteri (PM) Yaman meminta bantuan Riyadh, bahkan menawarkan pengunduran diri jika itu bisa membuat suntikan dana dari Saudi.

Langkah awal atas reformasi hak-hak perempuan di Saudi tidak menutupi pelanggaran sistemik Arab Saudi,
Kode:47
Sumber:beritasatu.com
Rubrik:Dunia

Komentar

Loading...