Jalan akses menuju Samar Kilang Kecamatan Syiah Utama, Kubupaten Bener Meriah lumpuh total akibat longsor dan pohon tumbang.“Mungkin kejadianya tadi malam, soalnya kemaren sore anggota saya pulang jalannya masih baik-baik saja," ungkapnya. Munurut Mustakim, longsor tersebut menimpa separuh badan jalan dengan panjang mencapai 17 meter, namun pohon-pohon dari atasnya tumbang dan menutup badan jalan sehingga jalan tersebut tidak dapat dilalui untuk saat ini.

Andi Irfan Didakwa Lakukan Pemufakatan Jahat dengan Pinangki

ANTARATersangka kasus suap Jaksa Pinangki Sirna Malasari, Andi Irfan Jaya.
A A A

JAKARTA -Andi Irfan Jaya, mantan Politikus NasDem didakwa melakukan pemufakatan jahat bersama Jaksa Pinangki dan mantan buronan terdakwa kasus korupsi Hak Tagih (cessie) Bank Bali, Djoko Soegiarto Tjandra.

Hal itu terungkap dalam surat dakwaan yang dibacakan Jaksa Penuntut Umum dalam sidang yang digelar di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Rabu (11/4).

"Bahwa Terdakwa Andi Irfan Jaya ... telah melakukan permufakatan jahat dengan Pinangki Sirna Malasari dan Joko Soegiarto Tjandra untuk melakukan tindak pidana korupsi," ujar Jaksa saat membacakan surat dakwaannya.

Dalam surat tersebut Jaksa menyebut mufakat jahat itu berkaitan dengan upaya pemberian hadiah atau janji hadiah berupa uang sebesar USD 10 juta. Uang tersebut rencananya bakal diberikan kepada pejabat di Kejaksaan Agung dan Mahkamah Agung (MA).

Kepada pejabat di Mahkamah Agung, hadiah tersebut dimaksudkan agar Djoko Tjandra terbebas dari vonis 2 tahun penjara yang dikeluarkan MA lewat putusan PK nomor 12 tanggal 11 Juni 2009 silam.

Dalam surat dakwaan yang dibacakan Jaksa juga diketahui bahwa Andi merupakan orang yang diperkenalkan Pinangki ke Djoko Tjandra pada akhir November 2019 lalu. Kala itu, Pinangki memperkenalkan Andi sebagai konsultan yang akan meredam pemberitaan media bila Djoko kembali ke Indonesia.

Pinangki menjanjikan Djoko Tjandra dapat pulang ke Indonesia lewat pengurusan sejumlah action plan di Mahkamham Agung. Dari total 10 action plan, beberapa di antaranya berupa action plan yang melibatkan Jaksa Agung ST Burhanuddin dan pejabat MA Hatta Ali.

"Action yang ke-3 adalah Burhanuddin mengirimkan surat kepada Hatta Ali yang dimaksudkan oleh Pinangki sebagai tindak lanjut surat dari Pengacara tentang permohonan Fatwa Mahkamah Agung," demikian dikutip dari salinan surat dakwaan yang diterima CNNIndonesia.com.

"Action yang ke-9 adalah Djoko Tjandra kembali ke Indonesia, yang dimaksudkan adalah Djoko Tjandra kembali ke Indonesia tanpa menjalani eksekusi pidana penjara selama 2 tahun berdasarkan Putusan PK Nomor 12 Tanggal 11 Juni 2009, yang akan dilaksanakan pada Bulan April sampai dengan bulan Mei 2020," lanjutnya.

Atas perbuatannya, oleh Jaksa Andi diancam pidana dalam Pasal 15 Jo. Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang- Undang Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Perantara Pinangki-Djoko Tjandra

Sementara itu, selain pemufakatan jahat, Andi Irfan Jaya turut didakwa membantu Jaksa Pinangki menerima uang sebesar USD500 ribu dari Djoko Tjandra. Uang tersebut diterima Pinangki untuk pengurusan fatwa atau action plan di MA.

"Waktu kejahatan dilakukan untuk menerima hadiah atau janji berupa uang sebesar USD500.000 dari USD1.000.000 yang dijanjikan oleh Joko Tjandra sebagai pemberian fee," kata Jaksa.

Uang itu masih berkaitan agar Djoko terbebas dari vonis 2 tahun penjara yang dikeluarkan MA pada 2019 lalu.

Atas perbuatannya dalam dakwaan ini, Andi Irfan Jaya diancam pidana dalam Pasal 5 ayat (2) jo. Pasal 5 ayat (1) huruf a Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Pasal 56 ke-1 KUHP.

Sumber:CNN INDONESIA
Rubrik:NASIONAL

Komentar

Loading...