Tersangka Korupsi E-KTP

Akui Pernah Bertemu Fayakhun dan Aziz Syamsuddin

FOTO | beritasatu.comMantan Direktur PT Murakabi Sejahtera yang juga keponakan Setya Novanto, Irvanto Hendra Pambudi menaiki mobil tahanan seusai menjalani pemeriksaan di gedung KPK, Jakarta, 9 Maret 2018.
A A A
Saya enggak pernah secara pribadi antar (bungkusan). Saya kurang tahu (siapa yang antar). Kadang kalau diajak Pak Andi (Narogong) sama Pak Vidi ‎(Gunawan),

JAKARTA - Irvanto Hendra Pambudi yang juga keponakan mantan Ketua DPR, Setya Novanto mengaku kerap bertemu dengan sejumlah politikus Partai Golkar. Beberapa di antaranya yakni Ketua Koordinator Bidang Perekonomian DPP Partai Golkar, Aziz Syamsuddin dan Ketua DPD Partai Golkar DKI Jakarta, Fayakhun Andriadi.

Hal ini diakui Irvanto saat dihadirkan sebagai saksi dalam sidang lanjutan perkara dugaan korupsi proyek e-KTP dengan terdakwa Setya Novanto di Pengadilan Tipikor Jakarta, Rabu (14/3).

Meski mengaku sering bertemu Azis dan Fayakhun, Irvanto yang telah berstatus tersangka kasus dugaan korupsi e-KTP ini membantah pernah memberikan sejumlah uang kepada anggota DPR.

"Tidak pernah (memberi uang ke anggota DPR) tetapi tahu dan pernah ketemu (Aziz Syamsuddin)‎," kata Irvanto.

Irvanto mengaku bertemu Azis saat ada acara Partai Golkar. Namun, Irvanto membantah mengantarkan langsung bungkusan kepada Aziz Syamsuddin secara pribadi.

"Saya enggak pernah secara pribadi antar (bungkusan). Saya kurang tahu (siapa yang antar). Kadang kalau diajak Pak Andi (Narogong) sama Pak Vidi ‎(Gunawan)," terangnya.

Tak hanya Aziz, Irvanto juga mengaku mengenal kader Golkar lainnya yakni Fayakhun Andriadi. Kata Irvanto, dia cukup sering bertemu dengan dengan Fayakhun. "Kenal (Fayakhun). Lumayan sering (ketemu)," ungkapnya.

Saat bertemu Fayakhun, Irvanto menyebut kerap ditemani oleh pengusaha yang disebut pengatur proyek e-KTP, Andi Narogong, serta Vidi Gunawan, dan Dedy Priyono yang merupakan adik dan kakak Andi Narogong.

‎"Saya pribadi enggak (mengantar bungkusan). Kalau ke sana, kalau enggak sama Andi, Vidi, atau Dedy," katanya.

Diketahui, KPK telah menetapkan Irvanto sebagai tersangka kasus dugaan korupsi e-KTP. KPK menduga Irvanto menampung uang sebesar USD 3,5 juta dari keuntungan proyek e-KTP yang diperuntukkan kepada Novanto. Aliran uang kepada Novanto dilakukan secara berlapis dan lintas negara.

Tak hanya itu, Irvanto juga terlibat dalam proses pembahasan proyek e-KTP melalui PT Murakabi Sejahtera. Irvanto juga sempat mengikuti pertemuan di Ruko Fatmawati atau biasa disebut Tim Fatmawati untuk membicarakan proses lelang proyek senilai Rp 5,8 triliun tersebut.

Meski Murakabi kalah lelang, perusahaan tersebut tetap terlibat dalam proyek e-KTP. Irvanto juga diduga sudah mengetahui sejak awal soal fee sekitar lima persen dari nilai proyek e-KTP sebesar Rp5,9 triliun untuk anggota DPR periode 2009-2014.

Atas tindak pidana yang diduga dilakukannya, Irvanto disangkakan melanggar Pasal 2 ayat (1) subsider Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Saya pribadi enggak (mengantar bungkusan). Kalau ke sana, kalau enggak sama Andi, Vidi, atau Dedy,
Kode:47
Sumber:beritasatu.com
Rubrik:Nasional

Komentar

Loading...