Minta Direlokasi

Warga Perbatasan Aceh Barat-Nagan Raya

FOTO | ILUSTRASIIlustrasi
A A A
Pemukiman kami dihapit oleh dua aktivitas perusahaan besar, pertama sebelah timur PLTU dan sebelah barat perusahaan BAMA PT Mifa Bersaudara. Setiap hari mereka beraktivitas, setiap saat pula kami menghirup udara kotor,

ACEH BARAT - Masyarakat berdomisili di kawasan perbatasan Kabupaten Aceh Barat-Nagan Raya, Aceh meminta direlokasi karena sudah tidak tahan menghirup polusi udara dari aktivitas perusahaan penyedia bahan baku dasar pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).

Muhktar Raja (47) tokoh Desa Suak Puntong, Kecamatan Kuala Pesisir, Nagan Raya di Meulaboh, Rabu mengatakan polusi udara menghinggapi pemukiman mereka sudah sangat kritis sehingga beberapa warga menderita sesak nafas.

"Pemukiman kami dihapit oleh dua aktivitas perusahaan besar, pertama sebelah timur PLTU dan sebelah barat perusahaan BAMA PT Mifa Bersaudara. Setiap hari mereka beraktivitas, setiap saat pula kami menghirup udara kotor,"katanya.

Muhktar menyampaikan, pemukiman mereka berjarak sekitar 150 meter dari PLTU dan sekitar 60 meter dari lokasi penumpukan material batubara perusahaan, ada sekitar 40 kepala keluarga (KK) di kawasan itu selama ini sudah cukup bersabar menanti perhatian.

Masyarakat berada di Dusun Gelangang Merak yang berencana minggat dari kawasan setempat tidak punya tempat tinggal lain, mereka juga mempertanyakan izin Analisis Dampak Lingkungan (Amdal) di kawasan mereka yang terkesan tidak cukup syarat.

Harusnya kata dia, apabila memang dalam perjanjian sebelumnya pembangunan perusahaan dilakukan setelah merelokasi warga sekitar, diharapkan janji itu dilakukan sebelum warga sekitar mengalami permasalahan kesehatan lebih parah.

"Saya sendiri tidak pernah merasakan ada kompensasi ataupun pemeriksaan kesehatan oleh perusahaan. Pernah ada tahun lalu pemeriksaan kesehatan, tapi untuk perempuan karena ada warga yang diduga sudah terkena dampak buruk debu batubara," katanya.

Lebih lanjut dikatakan, pemukiman mereka adalah kawasan pertama terdampak "badai batubara" saat terjadi anggin kencang dari barat laut ke darat, sebab lokasi tempat bongkar muat batubara perusahaan itu tidak jauh dari pemukiman penduduk.

Kata Muhktar, apabilapun ada upaya perusahaan menyediakan pembatas sebagai pengaman, tetap saja tidak dapat membendung terbangan debu batubara yang hinggap di rumah, sumur dan semua perabotan rumah tangga.

Ia mengakui, masyarakat di kawasan itu tidak banyak berani menyuarakan hal demikian, sebab ada beberapa diantaranya direkrut sebagai tenaga kerja lokal, namun semua itu tidak sebanding dengan kondisi ancaman kesehatan keluarga mereka yang terimbas.

"Perusahaan tidak mungkin dipindah, karena itu kami harapkan keluarga kami yang direlokasi. Saya pikir yang melakukan penelitian tidak mungkin membolehkan kebaradaan perusahaan sedekat ini dengan masyarakat, apalagi ini batubara," katanya.

Muhktar menyampaikan, harus ada solusi untuk masyarakat berdomisili di kawasan perbatasan antar Kabupaten Aceh Barat dan Kabupaten Nagan Raya tersebut, sebab persoalan lingkungan jangan dianggap sepele oleh siapapun.

Apalagi terhadap dampak kesehatan akibat debu batubara ini, diperkirakan muncul saat anak-anak mereka sudah beranjak dewasa dan merekapun sudah tua, itupun kalau masih diberi umur panjang oleh tuhan.

"Masalah lingkungan adalah masalah serius. Air embun pagi saja di pemukiman kami bewarna kuning hampir seperti bensin. Kami harap ada solusi untuk kami direlokasi untuk masa depan keluarga kami,"katanya menambahkan.

Kode:47
Sumber:ANTARA
Rubrik:Aceh

Komentar

Loading...